Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Paku Alam VII: Mempertegas Pembedaan Status Kewarganegaraan

Oleh: Redaksi Bernas•6 Januari 2016
Paku Alam VII: Mempertegas Pembedaan Status Kewarganegaraan
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"YOGYAKARTA HarianBernas com Apakah dengan reformasi yang ia lakukan banyak kemajuan yang dialami Pakualaman Apakah budaya yang selama ini dipertahankan juga..."

🗓️ Dipublikasikan pada 6 Januari 2016.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita inspirasi terbaru →

YOGYAKARTA, HarianBernas.com – Apakah dengan reformasi yang ia lakukan banyak kemajuan yang dialami Pakualaman? Apakah budaya yang selama ini dipertahankan juga diubah?

Paku Alam VII lahir di Yogyakarta pada tanggal 9 Desember 1882. Ia memiliki nama asli BRMH Surarjo.

Ia merupakan putra dari Paku Alam VI dengan permaisurinya.

Pada tanggal 16 Oktober 1906 ia diangkat menjadi penguasa tahta Pakualaman dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Prabu Suryodilogo oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Upacara resmi pengangkatan Paku Alam VII diadakan pada tanggal 17 Desember 1906. Paku Alam VII kemudian menjalin hubungan kerjasama dengan Pemerintah Hindia Belanda  untuk mengadakan beberapa pembaruan di bidang sosial dan agraria.

Ia juga mereformasi bidang pemerintahan dengan mulai menerbitkan rijksblad (semacam lembaran Negara) untuk daerah Pakualaman.

Pada tanggal 10 Oktober 1921 Paku Alam VII menggunakan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VII dan oleh Pemerintah Hindia Belanda diberi pangkat Kolonel Tituler.

Selama masa pemerintahannya, pembaharuan Pakualaman terus dilakukan terutama dalam hal penyempurnaan pengelolaan anggaran keuangan. Pemerintah desa pun tidak luput dari pembenahan dan reorganisasi.

Status kewarganegaraan penduduk dipertegas dengan membedakan antara warga Negara (kawulo kerajaan/kadipaten) dan bukan warga Negara (kawulo gubermen).

Paku Alam VII memberikan banyak perhatian di bidang kesenian. Saat itulah pagelaran wayang orang berkembang dengan baik bahkan dapat dikenal oleh tamu dari luar negeri. Ia mengijinkan sekolah-sekolah berdiri di daerah Adikarto (bagian selatan Kabupaten Kulon Progo sekarang) serta mengadakan sebuah lembaga beasiswa untuk menjamin kelanjutan studi bagi yang mampu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Paku Alam VII wafat saat ia melakukan kunjungan ke Netherland untuk menghadiri pesta perkawinan Putri Mahkota Belanda Juliana dan Pangeran Bernard.

Ia wafat pada tanggal 16 Februari 1937 dan dimakamkan di Girigondo Adikarto.

Walaupun ia membuat beberapa perubahan pada Pakualaman namun ia tetap tidak meninggalkan kebudayaannya. Ia bahkan mampu mengenalkan wayang orang di kancah Internasional.

Tag:#inspirasi#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram