Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Kendaraan Khas Tradisional Ini Menolak Tenggelam di Laju Modernitas Yogyakarta

Oleh: Redaksi Bernas•20 Juli 2017
Kendaraan Khas Tradisional Ini Menolak Tenggelam di Laju Modernitas Yogyakarta
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Pada era modern yang serba maju seperti saat ini, menuntut teknologi di Indonesia untuk terus bertransformasi sesuai dengan zaman, seperti halnya teknologi tran..."

🗓️ Dipublikasikan pada 20 Juli 2017.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita nasional terbaru →

HarianBernas.com – Pada era modern yang serba maju seperti saat ini, menuntut teknologi di Indonesia untuk terus bertransformasi sesuai dengan zaman, seperti halnya teknologi transportasi. Saat ini transportasi di Indonesia memasuki era kemajuan yang mengharuskan mayoritas kendaraan yang berada di jalan menggunakan tenaga mesin dengan banyak polusi yang dihasilkan.

Hal ini sangatlah berbeda jika kita tengok kembali ke masa lalu, beberapa tahun silam transportasi di Indonesia banyak menggunakan tenaga hewan seperti andong dan tenaga manusia seperti becak ataupun sepeda.

Setelah dilihat kembali, ternyata terdapat beberapa daerah di Indonesia yang masih mempertahankan kendaraan-kendaraan tradisional khas daerah masing-masing pada era modern ini. Salah satunya adalah Yogyakarta, Daerah Istimewa ini masih tetap konsisten dalam mempertahankan warisan transportasi budaya lokal seperti andong dan becak.

Di Yogyakarta kita masih dapat menikmati pemandangan kendaraan-kendaraan tradisional tersebut berkeliaran di jalan kota.

Transportasi lokal seperti andong dan becak menjadi salah satu ciri khas Yogyakarta dan juga berpotensi menunjang  pariwisata di kota ini.

Seperti penuturan salah satu wisatawan, Bu Dewi, beliau mengatakan bahwa andong dan becak ini adalah salah satu budaya dan peninggalan positif yang masih dipelihara di Yogyakarta.

Beliau juga menambahkan, bahwa hal unik ini juga dapat menarik minat wisatawan lokal ataupun mancanegara maka dari itu ia berharap bahwa kendaraan ini dapat tetap dilestarikan agar dapat mempertahankan keistimewaan Yogyakarta.

Penuturan dari Bu Dewi tersebut bukan hanya sebuah argumen, akan tetapi juga fakta yang terdapat di lapangan.

Seperti di Malioboro misalnya, kita dapat melihat para kusir dan pengendara becak menawarkan jasanya di pinggir-pinggir jalan.

Kita juga dapat melihat para turis dan wisatawan yang tertarik menaikinya, serta ada yang hanya ingin berfoto bersama kuda andong tersebut.

Salah satu pengendara becak, yaitu Pak Suparjo menuturkan bahwa ia sudah puluhan tahun menggeluti pekerjaan ini, dan ia merasa bangga karena ia turut membantu melestarikan warisan budaya lokal yang mulai tergeser oleh berbagai macam budaya modern lainnya.

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram