Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Jepang Miliki Rekor Bunuh Diri Tertinggi di Dunia, Ini Datanya

Oleh: Redaksi Bernas•23 Maret 2017
Jepang Miliki Rekor Bunuh Diri Tertinggi di Dunia, Ini Datanya
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"General Manager JKT48, Jiro Inao atau yang akrab disapa Jiro-San baru saja meninggal dunia akibat bunuh diri...."

🗓️ Dipublikasikan pada 23 Maret 2017.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita lifestyle terbaru →

HarianBernas.com ? General Manager JKT48, Jiro Inao atau yang akrab disapa Jiro-San baru saja meninggal dunia akibat bunuh diri. Diduga, ia bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban pekerjaannya di JKT48.

Di Jepang, negara asal Jiro-San, budaya untuk bunuh diri sudah lama ada, sejak era Samurai.

Hara-kiri lebih baik dilakukan, daripada hidup menanggung malu. Jepang sendiri memang dikenal sebagai negara dengan tingkat bunuh diri warga tertinggi di dunia.

Kementerian Kesehatan Jepang, Kamis (23/3/2017) mengungkap, pada tahun 2016 lalu tercatat angka kematian akibat bunuh diri mencapai 21.897 orang.

Dari jumlah tersebut, pelaku bunuh diri adalah 15.121 laki-laki dan 6.776 perempuan.

Meski terbilang banyak, gumlah ini menurun dari catatan tahun 2011 yang menembus angka lebih dari 30.000 orang.

Penurunan jumlah kematian akibat bunuh diri ini merupakan tren positif di Jepang yang terjadi dalam tujuh tahun berturut-turut.

Walau demikian para ahli mengaku sulit untuk menemukan alasan dari penurunan angka tersebut.

Sebab, aksi bunuh diri selalu merupakan kombinasi dari banyak faktor.

Selama ini, Pemerintah Jepang telah mengambil langkah khusus untuk menangani persoalan tersebut. Hal itu diawali dengan pembuatan undang-undang di tahun 2006.

Hukum yang mengatur tentang pemberian pinjaman kepada warga pun telah diperketat.

Hal itu menyebabkan warga tak bisa mengambil utang terlalu banyak.

Langkah tersebut dilakukan seiring dengan kampanye untuk membawa isu maraknya kasus bunuh diri tersebut ke muka publik.

?Saat ini kita bisa berbicara mengenai bunuh diri,” ungkap Yasuyuki Shimuzu, seperti dilansir Japan Today.

Shimuzu adalah pendiri Lifelink, sebuah lembaga non profit untuk pencegahan aksi bunuh diri.

?Saya percaya perubahan kondisi lingkungan membuat segalanya menjadi lebih mudah, juga memudahkan mereka yang 'bermasalah' mencari tempat pertolongan,” kata Shimuzu.

Jumlah angka kematian karena bunuh diri di Jepang meningkat tajam pada tahun 1998, hingga jauh melebihi jumlah 30.000 jiwa.

Rekor itu pun bertahan hingga tahun-tahun berikutnya, selama lebih dari satu dekade.

Masa itu menjadi masa di mana perekonomian Jepang mengalami krisis, kebangkrutan, dan persoalan pengangguran yang memuncak.

Angka bunuh diri pun mencapai 26 kasus di tiap 100.000 penduduk.

Satu-satunya kabar baik adalah, angka kematian akibat bunuh diri tak melambung lagi setelah resesi para di era 2008-2009.

Selanjutnya di tahun 2010, penurunan mulai terjadi. Dan sejak itu, angka tersebut kian berkurang dari tahun ke tahun, hingga mencapai rekor terendah seperti era sebelum 1998.

Ada data mengenai faktor utama dari tingginya angka bunuh diri hingga lebih dari 30.000 orang per tahun, dan penurunan hingga mendekati angka 20.000 pertahun.

Faktor utama tersebut adalah mengenai isu kesehatan dan persoalan finansial.

Penurunan tajam pun terjadi pada kelompok umur 50-59 tahun.

Para pakar menyebut, langkah yang diambil pemerintah sejak 2006 telah menunjukkan perkembangan yang efektif.

Langkah itu mengarah para perbaikan kehidupan sosial ekonomi warga, yang diidentifikasi menjadi salah satu faktor utama kasus bunuh diri di kelompok usia menengah.

Meskipun mengalami penurunan, angka kematian akibat bunuh diri di Jepang masih tercatat sebanyak 17,3 per 100.000 warga di tahun 2016.

Capaian itu masih menempatkan Jepang sebagai negara dengan angka bunuh diri paling tinggi di dunia.

Tag:#lifestyle#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram