HarianBernas.com – Narkoba merupakan hal yang dilarang di seluruh negara akibat dampak negatif yang ditimbulkannya pada pengguna yang kecanduan. Hal itu pula yang membuat aparat selalu bertindak tegas untuk memberantas barang haram tersebut. Tak terkecuali di Filipina yang mengumumkan perang melawan narkoba sejak pertengahan tahun lalu.
Jalannya perang melawan narkoba sayangnya dirusak oleh insiden yang tidak diharapkan.
Seorang pebisnis Korea Selatan ditemukan tewas di dalam kantor polisi nasional usai diculik oleh oknum anggota satuan anti narkoba polisi.
Pebisnis tersebut diketahui bernama Jee Ick Joo dengan bekas cekikan di lehernya.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada hari Minggu (29/1/17) menyatakan kalau dirinya merasa malu akan insiden tersebut. Ia pun memberikan tenggang waktu 48 jam kepada para pelaku untuk menyerahkan diri secara sukarela.
Jika tidak, Duterte akan menjanjikan hadiah uang sebesar 5 juta peso kepada siapapun yang bisa membawa paksa para pelaku dalam kondisi hidup ataupun mati.
Sehari kemudian, kepala polisi Ronald dela Rosa mengumumkan kalau perang melawan narkoba akan dihentikan hingga badan kepolisian Filipina dibersihkan dari oknum-oknum yang korup dan bermasalah. Ia juga mengumumkan kalau satuan polisi khusus perang melawan narkoba akan dibubarkan. Menurut Rosa, ia mengambil kebijakan tersebut setelah mendapat instruksi dari presiden untuk membersihkan badan kepolisian terlebih dahulu.
Sejak perang melawan narkoba dijalankan di Filipina, setidaknya 7.000 orang menjadi korban tewas dalam operasi ini.
Cara Duterte menjalankan perang melawan narkoba menuai kritikan dari luar negeri karena ia mengizinkan polisi Filipina melakukan pembunuhan tanpa proses peradilan kepada terduga pengedar narkoba.
Namun Duterte awalnya tetap bersikeras dengan kebijakannya dan bahkan balik melontarkan makian kepada pihak-pihak yang mengkritiknya.

