HarianBernas.com – Perdamaian masih merupakan hal yang sangat sulit digapai di Afganistan. Hari Selasa (10/1/17) siang waktu setempat, dua ledakan bom terjadi di ibukota Kabul. Saleem Rasouli selaku petugas medis setempat melaporkan kalau serangan ini menyebabkan 23 korban tewas dan lebih dari 20 korban luka.
Peristiwa ini bermula ketika pada jam sibuk di siang hari, seseorang secara tiba-tiba meledakkan diri di dekat gedung parlemen.
Tidak lama berselang, sebuah mobil meledak di dekat lokasi bom bunuh diri. Menurut pejabat Afganistan, kedua aksi tersebut merupakan aksi serangan yang terkoordinir.
Kelompok Taliban Afganistan langsung merilis pernyataan di hari yang sama kalau merekalah pelaku serangan di Kabul. Mereka menambahkan kalau target utama serangan tersebut adalah bus mini yang mengangkut para pegawai badan intelijen Afganistan.
Peristiwa di Kabul ini sekaligus menjadi aksi kekerasan bersenjata paling mematikan di ibukota Kabul selama beberapa pekan terakhir.
Perang ibarat menjadi hal yang tak terpisahkan dalam sejarah modern Afganistan. Setelah pasukan Uni Soviet mundur dari Afganistan di tahun 1989, kelompok-kelompok militan setempat kemudian terlibat konflik satu sama lain sebelum akhirnya Taliban keluar sebagai pemenang. Konflik sesudah itu terus berlanjut, namun lokasinya terbatas di pelosok utara Afganistan antara Taliban melawan Aliansi Utara.
Intensitas konflik kembali memanas setelah pasukan koalisi pimpinan AS melakukan invasi dan menggulingkan rezim Taliban di Afganistan pada tahun 2001.
Belasan tahun berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kalau Taliban bersedia meletakkan senjata dan mengakhiri perang gerilya.
Konflik yang masih terus berlangsung antara Taliban melawan pasukan koalisi internasional lantas berdampak pada tewasnya ribuan warga sipil setempat.

