Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Kata Pak Haryadi, Perempuan Kok Mbois

Oleh: Redaksi Bernas•20 Desember 2016
Kata Pak Haryadi, Perempuan Kok Mbois
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Sama-sama alumni Kampus Biru Tri Kirana Muslidatun maupun Haryadi Suyuti setidaknya masih punya penggalan kenangan maupun kisah saat pertama...."

🗓️ Dipublikasikan pada 20 Desember 2016.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita politik terbaru →

HarianBernas.com – Novel Cintaku di Kampus Biru yang kemudian diangkat ke layar lebar memang begitu terkenal. Bisa jadi, ada banyak kisah serupa dialami oleh para alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mungkin masih terbayang hingga mereka membangun keluarga.

Sama-sama alumni Kampus Biru, Tri Kirana Muslidatun maupun Haryadi Suyuti, setidaknya masih punya penggalan kenangan maupun kisah saat-saat pertama keduanya bertemu untuk pertama kalinya, selepas dari bangku SMA. ?Saya itu sesungguhnya tomboi. Pak Haryadi itu yang suruh saya pakai lipstik,? kenang Tri Kirana.

Memang, berdasarkan garis keluarga, Tri Kirana Muslidatun merupakan anak bungsu (anak ke-10) dari keluarga Alif Siswo Hardono.

Sebaliknya, Haryadi Suyuti anak sulung. Ibarat pepatah Jawa, tumbu oleh tutup. Alias pas atau tepat.

Tri Kirana yang akrab disapa Ana lahir dan besar di Jogja.

Dari ibunya mengalir darah Muslimat NU. Dari sepuluh bersaudara itu, kakaknya tujuh orang laki-laki dan tiga perempuan termasuk dirinya. Soal sekolah, keluarganya punya aturan yakni wajib merasakan sekolah agama.

Bahkan kakak-kakaknya dikirim untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor.

Dari fakta itulah Tri Kirana mengatakan dirinya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang maskulin. Dia masih ingat ketika Haryadi Suyuti yang saat ini menjadi suaminya menyarankan supaya tampil lembut. ?Kata Pak Haryadi, perempuan kok mbois,? ucapnya sembari tersenyum.

Karena besar di lingkungan keluarga maskulin, Tri Kirana sangat suka permainan basket, juga menyukai petualangan sebagai pecinta alam. Sejak berkenalan dengan Haryadi Suyuti sikap tomboi itu berangsur-angsur terkikis.

Lebih tepatnya terpaksa harus dikikis.

Kapan pertama kali bertemu Haryadi? ?Semester tahun pertama kuliah, saya sudah dicaplok Pak Haryadi,? ujarnya berkelakar.

Dia berkisah, sewaktu perpeloncoan mahasiswa baru di Kaliurang, Haryadi Suyuti yang merupakan kakak kelas menjadi Ketua Mahasiswa (KM). Waktu itu, Ketua KM termasuk orang-orang idola, kakak kelas favorit dan tentu saja banyak penggemarnya. ?Saat pidato sebagai Ketua KM, saya kebetulan menunggui teman saya yang lagi step (kejang, red). Jadi saya tidak tahu,? kata dia.

Maklum apabila Tri Kirana tidak mengetahui idola yang sedang berpidato itu adalah orang yang banyak diperbincangkan rekan-rekannya. ?Saya semula nggak tahu siapa idola di kampus, jadi saya nggak langsung tertarik,? kata dia.

Di luar dugaan, Haryadi Suyuti datang ke rumahnya.

Dari situ dia menyadari sama-sama pernah satu sekolah di SMAN 1 Yogyakarta. ?Begitu ngapeli saya, sesuke kabeh di kampus heboh,? tambahnya.

Bersama Haryadi Suyuti itulah jalan hidup Tri Kirana Muslidatun berubah. Dulu berpacaran satu jurusan (Administrasi Negara Fisipol) dianggap tabu. Itulah sebabnya Tri Kirana kemudian mendaftar kembali pindah jurusan psikologi dan diterima.

Dia mengakui pindah ke Fakultas Psikologi karena nuansanya lebih ladies.

Apa yang disuka dari Haryadi Suyuti? Menjawab pertanyaan itu, Tri Kirana menyatakan orangnya memang ganteng.

?Saya suka orangnya dinamis. Ganteng.

Dari dulu gagah dan tinggi. Ganteng ning ra bagus. Orangnya nggak model dendi. Lanang banget.

Sebenarnya teman-teman saya protes kok nggak cari yang ganteng. Tapi saya senang dinamisnya. Lelaki banget. Ya sudah kita jalan,? paparnya.

Tag:#politik#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram