HarianBernas.com – Anda pernah menonton film ?Armageddon? atau ?Deep Impact?? Kedua film tersebut bercerita tentang meteor raksasa yang mengarah ke Bumi dan mengancam kelangsungan umat manusia. Kendati kedua film tersebut adalah film fiksi yang dibuat dengan efek khusus, fenomena meteor raksasa yang mengarah ke Bumi memang benar-benar bisa terjadi karena ada banyak benda langit yang berseliweran di luar angkasa.
Kepunahan dinosaurus disebut-sebut terjadi akibat hantaman meteorit raksasa.
Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana jika fenomena serupa kembali terulang di masa kini? Jawabannya adalah manusia terancam mengalami kematian massal atau bahkan kepunahan jika fenomena tersebut benar-benar terjadi. Alasannya adalah karena umat manusia sekarang tidak memiliki persiapan yang cukup bila meteor raksasa benar-benar jatuh ke Bumi.
Hal tersebut ditegaskan oleh ilmuwan NASA yang bernama Joseph Nuth.
Pada hari Senin (12/12/16) waktu setempat, Nuth mengaku sempat membahas hal tesebut dengan para ilmuwan bidang nuklir di San Fransisco, AS.
Ia juga memaparkan kalau kendati peristiwa jatuhnya meteorit raksasa di Bumi adalah peristiwa yang sangat jarang terjadi, ia tidak menepis kemungkinan kalau hal tersebut bisa terjadi di masa depan.
Nuth memberi contoh mengenai bagaimana pada tahun 2014 lalu, para astronom menemukan benda langit raksasa yang mengarah ke Planet Mars. Benda langit tersebut diperkirakan bakal menghantam Mars dalam kurun waktu 22 bulan.
Nuth lantas menambahkan bahwa jika benda langit tersebut mengarah ke Bumi, maka hal yang sangat buruk akan terjadi karena umat manusia tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan tindakan antisipasi dalam waktu sesingkat 22 bulan.
Ilmuwan Cathy Piesko yang berasal dari Laboratorium Nasional Los Alamos dan diwawancarai secara terpisah oleh The Guardian menyatakan bahwa jika benda langit raksasa benar-benar akan menghantam Bumi, metode penanggulangan terbaik yang bisa diambil adalah menggunakan semacam meriam pelontar objek raksasa untuk menghancurkan benda langit tersebut. Namun ia juga menambahkan bahwa metode macam itu memiliki potensi resiko yang besar dan membutuhkan waktu persiapan serta pengujian hingga bertahun-tahun.

