HarianBernas.com – Kabar buruk menghampiri Arab Saudi di tengah keterlibatan negara kaya minyak tersebut dalam konflik di Yaman. Reuters memberitakan kalau pemerintah AS berencana menunda pengiriman senjata pesanan Arab Saudi. Kebijakan tersebut diambil karena AS merasa kecewa dengan perkembangan situasi di Yaman terkait banyaknya korban tewas dari kalangan warga sipil.
Sejak tahun 2015, pesawat Arab Saudi berulang kali membombardir sejumlah target di Yaman untuk melemahkan kelompok Houthi dan membantu rezim Abdrabbu Mansur Hadi.
Hingga sekarang, jumlah korban tewas akibat perang ini dilaporkan sudah mencapai 10 ribu jiwa. Sementara mereka yang masih hidup harus hidup dalam kondisi serba terbatas dan bahkan terancam kelaparan.
Kendati demikian, AS akan tetap berkomitmen membantu militer Arab Saudi dan berencana mengirimkan instrukturnya untuk melatih pilot-pilot pesawat militer Arab Saudi. Latihan ini diharapkan bisa membantu mengurangi korban tewas di kalangan warga sipil karena pilot Saudi salah melakukan serangan.
Para petinggi AS juga masih berbeda pendapat apakah pengiriman bom pintar yang bisa mengincar targetnya secara otomatis bakal mengurangi jumlah warga sipil yang tewas.
Mereka yang kontra beranggapan bahwa tingginya korban tewas terjadi bukan akibat keterbatasan teknologi yang digunakan bom pesawat.
Melainkan akibat militer Arab Saudi sendiri yang salah menerima informasi mengenai target serangannya.
Arab Saudi memang sedang giat memperkuat militernya akibat kian memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah dan adanya rivalitas dengan Iran. Data yang dirilis oleh Jane?s Defence menunjukkan kalau di tahun 2016 ini, Arab Saudi sudah menghabiskan uang sebesar 50 milyar dollar AS.
Jumlah tersebut menjadikan Arab Saudi menjadi negara dengan pengeluaran militer terbesar ke-5 dunia pada tahun 2016 di bawah AS, Cina, Inggris, dan India.

