HarianBernas.com — Nun jauh di tengah Samudera Pasifik, terdapat pulau kecil yang bernama Nauru. Pulau tersebut luasnya hanya sekitar 21 kilometer persegi. Dan di pulau inilah, terdapat negara pulau terkecil di dunia yang mengusung nama resmi Republik Nauru.
Secara astronomis, Nauru terletak puluhan kilometer di sebelah selatan garis khatulistiwa.
Itulah sebabnya negara yang beribukota di Tuvalu ini memakai bendera berwarna biru dengan motif bintang putih di bawah garis kuning untuk menyimbolkan lokasinya.
Walaupun kecil, di masa silam penduduk Nauru justru bergelimbang dengan kemakmuran. Penyebabnya adalah pulau ini kaya akan timbunan fosfat yang aslinya merupakan hasil akumulasi timbunan kotoran burung laut selama ratusan tahun. Sementara pulau tersebut hanya dihuni oleh sedikit penduduk.
Penambangan fosfat di Nauru awalnya dilakukan oleh Jerman.
Ketika Perang Dunia I meletus, wilayah Nauru diduduki oleh pasukan Australia dan hak menambang fosfat di Nauru selanjutnya menjadi milik perusahaan yang berbasis di Inggris.
Ketika Nauru merdeka pada tahun 1968, pemerintah Nauru membeli hak penambangan fosfat di pulaunya sendiri.
Pada periode inilah, Nauru berada dalam masa-masa keemasannya. Standar hidup penduduk mereka termasuk salah satu yang tertinggi di dunia.
Penambangan fosfat di Nauru di sisi lain memiliki konsekuensi negatif.
Karena penambangan dilakukan dengan cara mengeruk cadangan fosfat di antara bebatuan, penambangan tersebut meninggalkan celah-celah besar yang membuat tanah bekas penambangan tidak bisa lagi digunakan untuk aktivitas apapun.
Limbah hasil penambangan juga mencemari perairan laut di sekitarnya.
Tahun 2000, penambangan fosfat berskala besar di Nauru berakhir menyusul habisnya cadangan fosfat. Pemerintah negara tropis tersebut kini harus berjibaku mencari sumber pendapatan lain untuk negaranya.
Segala macam cara pun mereka tempuh selama bisa mendatangkan uang.
Tahun 2001, pemerintah Nauru memberi izin kepada Australia untuk mendirikan kamp penampungan imigran ilegal di sana. Lalu Nauru juga sempat menjadi sumber perebutan antara Taiwan dengan Republik Rakyat Cina yang sama-sama menawarkan bantuan uang jika Nauru mau menjalin hubungan diplomatik dengan salah satu dari kedua negara tadi.

