HarianBernas.com – Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) membuat pernyataan memprotes aturan sepakbola versi FIFA. ISIS menganggap semua aturan yang diterapkan FIFA haram hukumnya karena tidak sesuai dengan hukum syariah dan sunnah.
Syrian Observatory of Human Rights (SOHR) melaporkan, sebagai gantinya, ISIS menerapkan peraturan yang dianggap mereka lebih adil. Para wasit diminta untuk tidak memakai aturan FIFA dalam memimpin pertandingan dan harus menggunakan hukum dari ISIS.
- Baca juga: Persis Solo Tetap Berkualitas Meski 3 Pemain Pentingnya Tak Berlaga di Maguwoharjo
- Baca juga: Bakal Ada Turnamen Tenis Jogja Diakhir Rangkaian HUT Stay Lounge Cafe
Salah satu peraturan yang ingin diterapkan ISIS adalah prinsip qisas atau hukum balas dendam.
Ini berarti, pemain yang cedera berhak mendapat kompensasi dari lawan atau melakukan pembalasan setimpal. Yang menolak maka akan mendapat hukuman 80 kali cambukan.
Peraturan ini digulirkan seiring dengan berlangsungnya liga sepak bola musim 2016 di Deir ez-Zor. Para pesepakbola lokal mengaku mengiyakan peraturan itu, setidaknya supaya mereka tetap bisa bermain bola.
?Kami beruntung karena jika tetap menggunakan aturan FIFA maka mereka (ISIS) akan melarangnya sama sekali,? ujar seorang pemain kepada perwakilan SOHR, dilansir Daily Mail baru-baru ini.
Selain dalam sepakbola, ISIS juga menerapkan aturan lain di sejumlah wilayah di Suriah dan Irak.
Misalnya adalah melarang adanya aktivitas menari, merokok, dan melihat acara di stasiun TV asing.
Mereka yang melanggar tak tanggung-tanggung akan dipenggal, ditembak, dicambuk, dibakar hidup-hidup, atau dirajam.

