HarianBernas.com – Bentuk hidung manusia ada yang pesek ataupun mancung. Bentuk hidung ternyata diakibatkan oleh gen-gen tertentu. Hasil studi menunjukkan jika terdapat empat gen yang bertanggung jawab dalam membentuk hidung, apakah pesek atau mancung.
Dilansir dari Live Science, empat gen tersebut ialah GLI3, PAX1, DCH2, dan RUNX2.
Peneliti juga menemukan empat gen penentu bentuk hidung itu setelah berhasil meneliti hampir 6.000 orang dari Kolombia, Peru, Brasil, Chile, dan Meksiko, di dalam studi CANDELA.
Studi ini mempelajari bagaimana keragaman biologi dari kehidupan masyarakat yang ada di Amerika Latin.
Responden dalam studi ini mempunyai campuran dari keturunan ras Kaukasian, Afrika, Amerika asli, dan Eropa serta daerah lainnya.
Sampel tersebut dianggap peneliti sudah bisa mewakili keragaman bentuk fitur wajah manusia.
Peneliti pun menjelaskan dalam studi mereka, tim menganalisis fitur wajah responden, merekonstruksi secara tiga dimensi wajah dari lebih kurang 3.000 responden. Tujuannya agar mendapatkan pengukuran fitur wajah responden.
Setelah mengukur fitur wajah, peneliti juga akan melihat gen dari responden. Dari pendalaman itu, peneliti menemukan jika tiga gen yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan tulang dan tulang rawan yang dapat dipakai untuk bisa memprediksi bentuk hidung.
Dua gen yakni GLI3 dan PAX1, diketahui dapat bertanggung jawab dalam bentuk hidung pesek.
Gen DCH2 mengendalikan bentuk hidung mancung serta gen RUNX2 dikaitkan dengan lebarnya hidung.
Peneliti juga mengatakan, tiga gen yaitu GLI3, RUNX2, dan DCH2, terlihat telah berubah sewaktu masa manusia modern pada masa lalu, dibandingkan dengan keadaan gen itu pada masa awal manusia.
Dengan demikian, hal tersebut menunjukkan gen tersebut mendapat tekanan kuat dari seleksi alam di dalam masa modern.
Peneliti pun menunjukkan perbedaan bentuk hidung yang berevolusi dalam lingkungan yang berbeda. Seperti, peneliti menunjukkan, bentuk hidung yang sempit pada orang Eropa berkaitan dengan adaptasi cuaca dan lingkungan setempat.
“Itu mewakili sebuah adaptasi dari iklim kering dan juga dingin,” tutur Andrés Ruiz-Linares, pemimpin studi yang juga merupakan ahli biologi University College London, Inggris.
Linares berpendapat, dengan dapat mengidentifikasi gen hidung tersebut juga mampu memberikan bekal pemahaman dalam evolusi wajah pada spesies lainnya. Disamping itu, penulis pendukung lainnya, yaitu Kausturbh Adhikari, mengatakan temuan itu membantu para peneliti memahami evolusi kehidupan manusia awal.
“Menemukan peran masing-masing gen bisa membantu kami untuk dapat mengumpulkan jalur evolusi Neandhertal sampai manusia modern,” kata Adhikari yang merupakan seorang pakar pengembangan biologi dan sel dari University College London.
Bagi Adhikari, temuan studi ini membawa tim peneliti untuk lebih dekat dalam memahami bagaimana gen bisa memengaruhi cara manusia melihat penerapan forensik.
Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications terbitan 19 Mei 2016.

