YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Di tengah tekanan ekonomi global yang menekan daya beli masyarakat, sektor ekonomi digital Indonesia kini memasuki fase yang lebih realistis.
Tak lagi sekadar mengandalkan euforia promo besar dan ekspansi agresif, kini industri digital dituntut menjadi penyeimbang, penyerap guncangan, sekaligus motor pemerataan ekonomi.
CEO PT Bimasakti Multi Sinergi, Ibnu Sunanto, menegaskan bahwa ekonomi digital harus bertransformasi dari sekadar mendigitalisasi transaksi menjadi pencipta produktivitas nyata.
“Pasar menuntut hal yang lebih sehat: profitabilitas, efisiensi, trust, dan solusi yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga : Muskot APINDO Yogyakarta Resmi Pilih Pimpinan Baru, Siap Sampaikan Rekomendasi Kebijakan Ekonomi
Ekonomi Digital Jadi Penyeimbang
Menurut Ibnu, ekonomi digital kini berperan ganda:
– Menekan biaya transaksi bagi masyarakat dan UMKM agar lebih efisien.
– Memperluas akses pasar hingga ke warung, agen, dan usaha informal.
– Memudahkan distribusi bantuan dan layanan publik melalui digitalisasi.
– Mengalihkan model bisnis dari “membakar uang” ke transaksi produktif dan berulang.
“Ekonomi sedang menguji siapa yang benar-benar punya akar di masyarakat, dan siapa yang hanya besar karena promosi atau valuasi semata,” tegasnya.
Kiprah PT Bimasakti Multi Sinergi
Didirikan pada 2004 di Yogyakarta, PT Bimasakti kini menjadi salah satu fintech terkemuka dengan ekosistem luas:
– Agen Fastpay, merchant, biller, payment gateway Winpay, e-money Speedcash
– Aplikasi JogjaKita, ojek online lokal pertama di Yogyakarta
– Lisensi resmi dari Bank Indonesia serta sertifikasi keamanan internasional PCI DSS dan ISO 27001
Bimasakti juga aktif dalam berbagai asosiasi fintech dan e-commerce nasional, memperkuat posisinya sebagai pionir ekonomi digital berbasis gotong royong.
Tantangan Makroekonomi
OECD memproyeksikan pertumbuhan Indonesia 2026 hanya sekitar 4,7%, dengan konsumsi dan investasi tertekan oleh biaya energi, borrowing cost, serta pelemahan pasar tenaga kerja. Indeks keyakinan konsumen pun turun ke 120,9, level terendah sejak September 2025.
Dalam kondisi ini, digitalisasi diharapkan menjadi “aliran darah baru” bagi perekonomian: mempercepat transaksi, membuka peluang pendapatan, dan memperkuat jejaring usaha.
Strategi Bertahan
Ibnu menyarankan enam langkah kunci bagi pelaku digital:
1. Disiplin mengelola arus kas
2.
Fokus pada produk yang memecahkan masalah nyata
3. Memperkuat transaksi berulang
4. Membangun ekosistem yang solid
5.
Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk efisiensi
6. Menyederhanakan operasi dan memangkas hal tidak produktif
Baca Juga : JogjaKita Ledakkan Semangat Ekonomi Lokal Lewat Kampanye #DuitTetapDiJogja
“Aplikasi hanyalah alat. Bisnis yang sebenarnya adalah masalah yang diselesaikan, transaksi yang diciptakan, jaringan yang dibangun, dan kepercayaan yang dijaga,” tandasnya.
Ekonomi Digital yang Membumi
Bimasakti menegaskan komitmennya membangun ekonomi digital yang membumi: masuk ke daerah, memberdayakan agen, membantu merchant kecil, memperkuat UMKM, dan menciptakan transaksi produktif.
“Indonesia membutuhkan ekonomi digital yang berpihak pada rakyat kecil, bukan sekadar kota besar atau aplikasi canggih,” pungkas Ibnu Sunanto. (cdr)

