Tragedi Lumbung Investasi: Mengapa Jawa Barat Tetap Juara Pengangguran Nasional? Menagih Janji 'Asta Cita' di Tangan Politisi Pasundan
BANDUNG, 24 Mei 2024. Di balik gemerlap kafe estetik di Jalan Braga dan megahnya Masjid Al-Jabbar, tersimpan sebuah ironi yang mencekik leher anak muda Jawa Barat.
Ribuan sarjana dan lulusan SMK kini terjebak dalam lingkaran setan 'ghosting' perusahaan, sementara janji politik terus berhamburan setiap musim pemilu tiba.
Kita melihat billboard politisi tersenyum lebar di setiap sudut jalan, namun di bawahnya, seorang pemuda termenung memegang map cokelat yang lusuh karena tak kunjung mendapat panggilan kerja.
Apakah Jawa Barat hanya dianggap sebagai lumbung suara semata, tanpa pernah benar-benar diberdayakan secara ekonomi?
Masalah ini bukan sekadar angka di atas kertas, ini adalah tentang martabat warga yang mulai luntur karena ketidakpastian masa depan.
Mari kita tantang para tokoh hebat di tanah ini. Apa kata Bapak Bey Machmudin atau para tokoh politik yang berebut kursi panas Gubernur Jabar?
Bagaimana Anda menjelaskan kepada 1,17 juta orang yang menganggur bahwa Jabar adalah juara investasi nasional selama bertahun-tahun?
Apakah investasi yang masuk hanya berupa mesin-mesin otomatis yang tidak butuh tenaga manusia lokal, ataukah ada 'gap' keterampilan yang sengaja dibiarkan menganga?
Kita butuh jawaban yang lebih dari sekadar jargon 'Jabar Juara'. Data BPS menunjukkan fakta yang tak terbantahkan dan sangat pahit untuk ditelan.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat per Februari 2024 masih bertengger di angka 6,91 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Warta Pilihan Redaksi:
Transformasi Ekonomi Digital: Strategi BERNAS Menuju Indonesia Emas 2045Padahal, realisasi investasi di Jawa Barat selalu menduduki peringkat pertama nasional, menembus angka ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.
Ke mana larinya uang-uang itu jika bukan untuk menciptakan lapangan kerja bagi warga lokal?
Ketimpangan ini adalah ancaman langsung terhadap pilar keempat 'ASTA CITA' yang dicanangkan pemerintah pusat, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan sains teknologi.
Jika Jabar gagal menyerap tenaga kerjanya, maka target Indonesia Emas 2045 hanyalah mimpi di siang bolong bagi warga Pasundan.
Fenomena ini menciptakan 'Data Gap' yang mengerikan antara pertumbuhan ekonomi makro dengan kesejahteraan mikro di meja makan warga.
Kita seolah sedang melihat sebuah pesta besar di mana warga Jabar hanya menjadi petugas parkir di luar pagar, tanpa pernah mencicipi hidangan di dalamnya.
Politisi kita harus berhenti berdialog dengan cermin dan mulai berdialog dengan data lapangan yang berdarah-darah ini.
Pertanyaannya sekarang, apakah para pembuat kebijakan di Jawa Barat berani melakukan audit total terhadap efektivitas investasi yang masuk?
Ataukah kita akan terus membiarkan anak muda kita menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri sementara angka pengangguran terus dipelihara sebagai komoditas politik?
Dialog ini harus dimulai sekarang, sebelum rasa frustrasi sosial berubah menjadi ledakan yang tak terkendali. Analisa Data Eksklusif oleh TIM NATIONAL DATA ALCHEMIST BERNAS.
Rangkuman Warta Terkait
Lanjutkan Literasi Strategis Anda



