Sinyal Bahaya! Makassar Gagal Paham Era Digital? Data BPS Ungkap Kesenjangan Nyata

Key Takeaways:1. Makassar menghadapi paradoks digital: infrastruktur ada, namun pemanfaatan belum optimal.2. UMKM lokal terjebak di era analog, tergerus persaingan online.3.
Data BPS menunjukkan kesenjangan literasi digital yang mengkhawatirkan.4. Ada panggilan mendesak untuk solusi inovatif dan kolaboratif.
Di lorong-lorong padat Pasar Sentral Makassar, Ibu Rahma, pedagang kue tradisional, masih mengandalkan teriakan dan hitungan manual.
Smartphone di tangannya lebih sering digunakan untuk sekadar chatting, bukan untuk memperluas pasar atau mencatat stok. Ini bukan kisah tunggal.
Ribuan pedagang kecil, pengrajin, dan penyedia jasa di Makassar mengalami nasib serupa.
Mereka melihat tetangga atau bahkan anak muda berjualan online, namun merasa asing dengan dunia digital.
Masterclass AI & Fullstack — Sertifikasi Google Gratis
Kuasai AI, Cloud, dan Fullstack Development. Akses 100+ slide interaktif di Slid1st Academy.
Daftar Sekarang — Gratis →Aplikasi e-commerce yang menjanjikan kemudahan, bagi mereka, hanya pajangan di etalase toko virtual yang tak terjamah.
Penderitaan ini nyata. Omzet stagnan, pelanggan setia mulai beralih ke lapak online, dan mimpi untuk memperbesar usaha terasa semakin jauh.
Ironisnya, mereka berada di kota yang digadang-gadang sebagai 'Smart City', namun manfaat ‘Smart’ itu belum sampai ke akar rumput ekonomi mereka.
Ketika Aplikasi Hanya Pajangan Belaka
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan kritis: apakah 'Smart City' yang kita bangkitkan hanya berhenti di level infrastruktur canggih tanpa menyentuh esensi pemberdayaan?
Bapak Walikota dan jajaran birokrasi, ini bukan hanya masalah teknis, ini masalah kemanusiaan dan keadilan ekonomi.
Profesor Anugerah, pakar ekonomi digital dari Universitas Hasanuddin, pernah menyampaikan dalam Riset Internal Bernas bahwa "Digitalisasi tanpa literasi adalah ilusi kemajuan.
Kita membangun jalan tol digital, tapi lupa melatih pengendara motornya.". Pernyataan ini menusuk, namun sangat relevan dengan realitas di Makassar.
Warta Pilihan Redaksi:
BERNAS Growth Academy: Belajar Investasi & Web3 dari NolPara pengelola inkubator startup dan tech hub di Makassar, apakah kalian melihat potensi emas yang belum tergarap ini?
Bagaimana strategi kalian agar inovasi teknologi tidak hanya berputar di kalangan elit, tapi juga merangkul dan mengangkat perekonomian UMKM tradisional?
Jangan biarkan kesenjangan ini melebar menjadi jurang.
Sang Walikota Bertanya: Smart City Atau Smart Gap?
Data BPS terbaru untuk Sulawesi Selatan menunjukkan angka yang mengejutkan.
Hanya sekitar 35% UMKM di Makassar yang secara aktif memanfaatkan platform digital untuk pemasaran dan penjualan, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 45%.
Ini adalah alarm.
Lebih lanjut, indeks literasi digital produktif untuk kelompok usia di atas 40 tahun di Makassar masih tertinggal.
Mereka yang merupakan tulang punggung ekonomi keluarga, justru paling minim akses terhadap edukasi digital yang relevan.
Ini bertentangan dengan semangat ASTA CITA untuk mewujudkan pemerataan ekonomi berbasis digital.
Kesenjangan ini bukan sekadar angka. Ini adalah hambatan nyata bagi upaya pemerintah menciptakan Masyarakat Berpengetahuan Global (MBG) dan memperkuat fondasi Koperasi Merah Putih.
Tanpa partisipasi aktif UMKM dalam ekonomi digital, pertumbuhan inklusif akan sulit tercapai.
Mengubah Angka Menjadi Asa: Mungkinkah?
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Mengapa data yang begitu gamblang ini belum memicu revolusi digital di tingkat akar rumput?
Apakah kita akan terus berpuas diri dengan pembangunan infrastruktur megah tanpa memastikan manfaatnya dirasakan semua lapisan masyarakat?
Investigasi Tim Bernas menunjukkan bahwa kolaborasi penta-helix antara pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media adalah kunci.
Program pelatihan digital yang disesuaikan dengan kebutuhan UMKM, pendampingan yang berkelanjutan, dan kemudahan akses ke permodalan digital menjadi sangat krusial.
Makassar memiliki potensi luar biasa. Kota ini adalah pusat perdagangan dan jasa di Indonesia Timur.
Dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dan data, kita tidak hanya akan membangun 'Smart City', tetapi juga 'Smart Citizen' yang berdaya.
Jangan biarkan data hanya menjadi angka statistik, ubah ia menjadi asa dan aksi nyata!
[STRATEGI SOLUSI] Jangan biarkan Makassar terperangkap dalam paradoks digital! Dapatkan blueprint lengkap dan strategi aksi nyata untuk mengubah tantangan ini menjadi peluang emas.
Ikuti 'Slid1st Masterclass: Digital Alchemy for Local Development' sekarang di Bernas.id/Slid1st dan raih Beasiswa Digital Alchem1st untuk menjadi agen perubahan!
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Track Top 100 Kompetitor & Industry Trend Real-Time
Bernas Intelligence memberikan sinyal pasar, ranking brand, dan content brief mingguan untuk tim marketing & strategy Anda.
Lihat Intelligence Hub →
Program Career Accelerator UNMAHA
Akselerasi karir global Anda lewat program Teaching Factory. Kuliah S1/D3 dengan jaminan penempatan kerja.
Warta Terkait NASIONAL
Local Intelligence Node
Reformasi Strategis Koperasi Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Strategi Modernisasi Koperasi Nasional Menuju Visi Indonesia Emas 2045
Transformasi Karir Digital: Strategi Menuju Indonesia Emas 2045 melalui Sektor Media
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di teknologi
Semantic Authority Linker
Lanjutkan Literasi Strategis Anda