Perkuat Toleransi dan Kebersamaan Sejak Usia Muda, SMAK Santo Paulus Jember Gelar Sarasehan Kebhinekaan
Bupati Fawait menghadiri sarasehan Kebhinekaan di SMAK Santo Paulus Jember (foto: Bernas.id/Sigit)
JEMBER, BERNAS.ID – Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Santo Paulus Jember menggelar sarasehan kebhinekaan antar umat beragama.
Ini dalam rangkaian HUT SMAK Santo Paulus Jember ke-75.
Sarasehan Kebhinekaan ini bertemakan merawat persaudaraan dalam semangat SAHABAT (Solidaritas, Harmoni, Bersama dalam Toleransi), digelar di aula SMAK Santo Paulus Jember, Sabtu, (28/3/2026).
Ketua panitia Romo Kristoforus Rawi, O.Carm, dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para undangan, khususnya para pembicara dan tamu undangan.
Baca Juga : Sahur Lintas Iman di Gereja Baciro Perkuat Toleransi dan Kerukunan Beragama di Jogja
Undangan yang tampak hadir, para tokoh agama, Romo Paroki Gereja Katolik Santo Yusup Romo Utus, O.Carm, pejabat Pemkab diantaranya Asisten Sekretariat Retno C.
Sembodo dan Indra Tri Purnomo, dua Staf Ahli Bupati Harry T, Rahman Anda, dan tidak lupa pejabat Kantor Kementrian Agama di Jember.
Pembicara sarasehan kebhinekaan Romo Henrikus Suwaji, O.Carm selaku Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama Keuskupan Malang dan Dr KH Hordi Ariev selaku Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Silo.
Sedangkan siswa- siswi peserta sarasehan berasal dari PP Darul Muqomah Gumukmas sebanyak 20 orang terdiri dari 10 laki-laki dan 10 perempuan.
Dari PP Al Falah Silo 10 orang laki-laki dan 10 perempuan.
Dari PP Bahrul Ulum 20 orang laki-laki 10 dan 10 perempuan.
Dari PP Murah Chotib Al Qodiri 20 orang perempuan dan 20 siswa laki-laki.
Jalannya Sarasehan
Moderator sarasehan ini adalah Romo Thomas R Sumariyanto.
Pembicara pertama, Dr KH Hordi Ariev, membahas toleransi beragama.
Toleransi bisa terwujud dengan baik jika memandang orang lain sebagai saudara.
Ada 5 hal yang ada dalam toleransi, yaitu, saling memperhatikan, saling berbagi, saling melindungi, saling menghormati dan saling mengasihi.
Toleransi tidak memandang rupa, suku, agama dan latar belakang seseorang.
Menurut KH Hordi, manusia dibentuk oleh Tuhan secara sempurna.
Berbeda dengan malaikat.
Malaikat diciptakan oleh Tuhan hanya untuk melakukan satu tugas sedangkan manusia bisa melakukan banyak hal.
Tidak saja mengasihi tapi bisa juga membenci. Bahkan membunuh sesamanya.
Karena itu KH Hobri mengajak peserta sarasehan merefleksi diri. Malaikat dan manusia diciptakan untuk ibadah.
Dengan memuliakan manusia lain adalah bentuk ibadah.
Pembicara kedua, Romo Suwaji mengangkat tema “Makin Beriman Makin Berteman”.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang percaya dan beriman adanya Tuhan Sang Pencipta.
Maka bangsa Indonesia pada kebanyakan beriman, masing-masing kepada Tuhan yang dipercayainya.
Warta Pilihan Redaksi:
BERNAS Growth Academy: Belajar Investasi & Web3 dari NolDengan demikian maka tiap orang Indonesia mempunyai teman. Tidak hanya satu, tapi banyak.
Antitesanya adalah kalau tidak bisa berteman maka ia tidak punya iman.
Bentuk toleransi yang dikembangkan oleh Romo Suwaji, ia hadir ke umat yang merayakan Hari Besar Agama.
Ia mencontohkan toleransi di Kota Malang.
Katedral di Malang berdekatan dengan Masjid Jami’.
Saat umat Islam melaksanakan sholat Ied mereka melakukan di halaman Katedral Malang.
“Perbedaan itu karya Tuhan,” ucap Romo Suwaji.
Siapa yang tidak menghormati perbedaan berarti tidak menghormati Tuhan Sang Pencipta, kata Romo yang pernah menjadi Romo Paroki Gereja Katolik Santo Yusup Jember
“Berani hidup dalam perbedaan: bersahabat tanpa diskriminatif, bertemu dan berdialog dengan akrab dan terbuka serta mampir bekerjasama,” katanya.
Bupati Fawait Hadiri Sarasehan
Kehadiran Bupati Jember Muhammad Fawait atau lebih sering disapa membuat suasana sarasehan menghangat.
Dalam sambutannya, Gus Fawait mengatakan bahwa Jember adalah kabupaten besar.
Sebanding dengan Malang dan Surabaya. Tapi masih tertinggal.
Kita sedang berlari mengejar mereka.
Baca Juga : Dukung Gelar Pahlawan Sultan HB II, Sultan HB X Dijadwalkan Buka Seminar Nasional Maret 2026
“Ke depan yang melakukan perubahan menuju Indonesia maju adalah adik-adik.
Salah satunya yang hadir di sini,” ucap Gus Fawait.
Kabupaten Jember dikatakan besar oleh Gus Fawait karena jumlah penduduk ketiga terbanyak di Jawa Timur, artinya punya sumberdaya besar.
Potensi alam, potensinya yaitu panjang garis pantai terpanjang nomor dua se Jawa Timur.
Potensi alam, potensinya yaitu panjang garis pantai terpanjang nomor dua se Jawa Timur.
Potensi alam lain, di selatan pantai di utara gunung.
Potensi pendidikan, jumlah SMK terbesar, kampus terbanyak ketiga se Jawa Timur
Pusat perekonomian Tapal Kuda dan pusat perbankan.
Tetapi ada tantangan yang membuat Jember kalah, yaitu jumlah kemiskinan terbanyak kedua di Jawa Timur.
Hal itu menjadi paradox.
“Kabupaten Jember adalah kabupaten yang toleransi,” ucap Gus Fawait.
Dia mencontohkan.
Dalam setiap salam yang sering disampaikan Gus Fawait mengucapkan salam keberagaman dengan salam cara 6 agama di Indonesia.
Contoh lain, ia selalu mengucapkan selamat saat peringatan hari besar keagamaan.
“Saya ingin menunjukkan bahwa Jember adalah miniatur Indonesia.
Boleh berbeda agama tetapi semua adalah warga Jember,” tandas Gus Fawait. (sgt)
Rangkuman Warta Terkait
Menagih Hutang Sejarah: Menanti Langkah Prabowo Subianto Meneladani Keteguhan Sultan HB II Melawan Intervensi Asing
Pameran Akbar Bertaraf Nasional akan Digelar Awal April 2026 di JEC
Menakhodai Era Symbiotic Leadership, Dunia Butuh Leadership 6.0
Lanjutkan Literasi Strategis Anda



