Jambi, Lumbung Sawit Berkilau, Tapi 'Neraka' Ilmu bagi Generasinya? Menguak Ironi Bocah Putus Sekolah!
Jambi, 21 Mei 2024 - Di pelosok Jambi, di antara deretan pohon sawit yang menjulang tinggi bak menara kemakmuran, mimpi-mimpi kecil seringkali layu sebelum berkembang.
Bukan karena malas, melainkan karena kerasnya realitas yang tak kenal ampun.
Ratusan anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah, bukan untuk liburan, melainkan untuk ikut orang tua memanen sawit atau sekadar mengais rezeki demi sesuap nasi.
Bangunan sekolah reyot, guru yang tak kunjung datang, serta ketiadaan akses internet menjadi pemandangan pilu yang tak asing lagi.
Masa depan generasi muda di wilayah kaya sumber daya ini seolah terpasung dalam lingkaran kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.
Lihatlah wajah-wajah polos yang seharusnya penuh semangat belajar, kini bergelut dengan lumpur dan bau pupuk.
Setiap tetes keringat mereka adalah tamparan keras bagi janji pendidikan merata yang kerap digaungkan.
Bagaimana mungkin, di provinsi yang PDRB-nya ditopang komoditas ekspor bernilai tinggi, anak-anaknya justru kehilangan hak fundamental untuk mendapatkan ilmu?
Sebuah pertanyaan yang menggantung, menanti jawaban dan tindakan nyata dari para pemangku kebijakan, seolah menggema di antara suara gesekan daun sawit yang tertiup angin.
Apa kata Dr. Larasati Wijaya, pakar kebijakan pendidikan dari Universitas Jambi, melihat fenomena yang memprihatinkan ini?
'Jambi memiliki potensi luar biasa, itu tidak terbantahkan.
Namun, angka putus sekolah yang masih tinggi, terutama di daerah pedalaman yang sulit dijangkau, menunjukkan ada disfungsi serius dalam rantai kebijakan dan implementasi pendidikan kita.
Anggaran pendidikan memang terus digelontorkan, tapi apakah tepat sasaran? Apakah kita sudah memberdayakan guru-guru kita yang berjuang di garda terdepan, di daerah terpencil?
Atau jangan-jangan, dana itu hanya berhenti di meja administrasi tanpa pernah menyentuh akar masalah sebenarnya?' tanyanya retoris dengan nada khawatir.
Warta Pilihan Redaksi:
Transformasi Ekonomi Digital: Strategi BERNAS Menuju Indonesia Emas 2045Beliau melanjutkan, 'Data menunjukkan rasio guru yang tidak merata, infrastruktur yang tertinggal, dan kurikulum yang seringkali tidak relevan dengan kebutuhan lokal.
Ini bukan sekadar masalah teknis atau administratif; ini adalah krisis moral dan kemanusiaan.
Berapa banyak lagi generasi yang akan kita korbankan, yang kehilangan masa depan cerah mereka, sebelum kita menyadari bahwa investasi pendidikan adalah investasi peradaban yang tak ternilai?
Harusnya, dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, Jambi bisa menjadi contoh sukses pendidikan, bukan sebaliknya. Tapi mengapa realitanya justru berbanding terbalik?'
Data BPS Provinsi Jambi periode terakhir (2023) menunjukkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk jenjang SMP/sederajat masih berkisar di angka 90-92% dan SMA/sederajat di angka 70-75% untuk beberapa kabupaten, menyisakan ribuan anak yang tidak melanjutkan pendidikan.
Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Jambi juga masih di bawah rata-rata nasional, terpaut sekitar 1-2 tahun dari target ideal.
Kontras dengan Harapan Lama Sekolah (HLS) yang idealnya mencapai 12-13 tahun, realitas di lapangan seringkali jauh dari harapan.
Ironisnya, angka kemiskinan absolut di beberapa wilayah Jambi, meskipun cenderung menurun, masih menjadi pemicu utama anak-anak tidak mampu melanjutkan pendidikan, terjebak dalam dilema antara belajar atau bekerja.
Kegagalan dalam menjamin akses dan kualitas pendidikan di Jambi secara langsung mengancam salah satu pilar utama 'Asta Cita' yang dicanangkan pemerintah, yakni 'Meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia'.
Bagaimana mungkin kualitas hidup rakyat meningkat jika fondasi pendidikan mereka rapuh dan rapuh?
Ini bukan hanya tentang statistik dan angka semata, ini adalah tentang masa depan bangsa yang terancam.
Apakah kita akan terus menyaksikan potensi-potensi muda ini kandas di tengah jalan, hanya karena sistem yang abai dan janji-janji yang tak kunjung terealisasi?
Jadi, apakah solusi 'gila' dan inovatif yang bisa kita terapkan agar potret suram pendidikan di Jambi ini berubah menjadi kisah sukses yang menginspirasi?
Siapa yang berani melangkah paling depan dan mewujudkan perubahan itu?
Redaksi Bernas
Rangkuman Warta Terkait

Pameran Akbar Bertaraf Nasional akan Digelar Awal April 2026 di JEC

Menakhodai Era Symbiotic Leadership, Dunia Butuh Leadership 6.0

Semangat Tanpa Batas dalam Keterbatasan, Ibu Irma dan Jejak Pemberdayaan Disabilitas Melalui PNM Mekaar
Lanjutkan Literasi Strategis Anda
