Helipad Jatiluwih Ancam Status Warisan Dunia UNESCO

TABANAN, BERNAS.ID – Pembangunan helipad di kawasan persawahan Subak Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, memicu kekhawatiran serius dari pemerintah pusat.
Keberadaan landasan helikopter tersebut dinilai merusak keaslian lanskap pertanian yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) oleh UNESCO sejak 2012.
Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr.
Restu Gunawan, M.
Hum menyebut pembangunan helipad sebagai sebuah kesalahan besar.
Lokasinya yang berada di antara hamparan sawah tradisional dinilai mencederai nilai budaya subak yang dijaga selama ratusan tahun.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Bayar Setelah Kerja!
Program S1/D3 di UNMAHA dengan Income Sharing Agreement. Tanpa biaya kuliah, bayar 15% dari gaji setelah bekerja.
Daftar Sekarang — Gratis →Baca Juga : Irigasi Rusak, Ratusan Hektar Sawah di Jatiluwih Terancam Kering
“Ini kesalahan total.
Helipad merusak keaslian bentuk sawah berundak yang menjadi daya tarik utama Jatiluwih.
Warta Pilihan Redaksi:
BERNAS Growth Academy: Belajar Investasi & Web3 dari NolJika tidak dikembalikan ke kondisi semula, bisa-bisa masuk daftar merah UNESCO,” ujarnya tegas.
Menurutnya, status warisan dunia tidak bisa dianggap sebagai simbol semata.
Setiap situs akan dievaluasi berkala oleh UNESCO, dan keaslian bentuk menjadi salah satu syarat utama.
Bila terus dibiarkan, status WBD Subak Jatiluwih dapat dicabut.
Kementerian, kata dia, telah menyurati Bupati Tabanan sejak awal 2019 agar mengembalikan helipad menjadi sawah.
Namun hingga kini, surat tersebut belum mendapat respons.
Restu juga mengingatkan bahwa pembangunan tersebut telah melanggar dua undang-undang, yakni UU Cagar Budaya dan UU Pertanian.
Baca Juga : Warga Jatiluwih Sarankan Bupati Tabanan Belajar ke Dedi Mulyadi
“Kalau tak juga ada tindakan, kami akan lapor ke Gubernur Bali.
Ini tanggung jawab daerah yang mengusulkan kawasan ini sebagai warisan dunia.
Jangan hanya terima nama besar tanpa komitmen merawatnya,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah juga seharusnya berupaya menyejahterakan pemilik lahan.
Menurutnya, tekanan ekonomi membuat pemilik sawah gelisah karena tak bisa menjual lahannya.
“Kalau mereka tidak diberi penghidupan yang layak, lama-lama mereka tinggalkan sawah.
Dan kawasan ini hanya jadi monumen kosong,” tutupnya. (DID)
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Income Sharing Agreement
Tidak perlu bayar uang kuliah! Kuliah S1/D3 di UNMAHA, kampus pencetak pengusaha. Bayar hanya 15% dari gaji setelah Anda bekerja.

Warta Terkait NASIONAL
Local Intelligence Node
Strategi Jitu Sumbar Sambut Indonesia Emas: Prodi Digital Global UNMAHA Buka Peluang Ka...
Riau Menuju Panggung Dunia: Strategi Mengisi Kesenjangan Digital dengan Karir Remote
Transformasi Digital Surabaya: Strategi Menembus Pasar Kerja Global dari Rumah
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di bali
Semantic Authority Linker
Lanjutkan Literasi Strategis Anda