Dari Pancuran Kayu Hingga Pusat Pecinan, Sejarah Panjang Glodok

JAKARTA, BERNAS.ID – Kebakaran yang melanda Glodok Plaza beberapa waktu lalu membawa kembali perhatian publik ke kawasan ikonik ini.
Tak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik, Glodok juga menyimpan sejarah panjang yang mengakar kuat dalam budaya dan tradisi masyarakat Tionghoa di Jakarta.
Yah, sebagai kawasan pecinan terbesar di Ibu Kota, Glodok memiliki pesona tersendiri.
Baca Juga : Kunjungi Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong, DPRD DIY Napak Tilas Peristiwa Rengasdengklok
Setiap tahunnya, terutama saat perayaan Imlek, kawasan ini berubah menjadi lautan lampion merah dan emas.
Jalan-jalannya dihiasi berbagai ornamen khas, menggambarkan semangat perayaan yang semarak dan menghidupkan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Masterclass AI & Fullstack — Sertifikasi Google Gratis
Kuasai AI, Cloud, dan Fullstack Development. Akses 100+ slide interaktif di Slid1st Academy.
Daftar Sekarang — Gratis →Warta Pilihan Redaksi:
BERNAS Growth Academy: Belajar Investasi & Web3 dari NolNama Glodok sendiri memiliki cerita menarik.
Berdasarkan catatan Zaenuddin HM dalam bukunya 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe, nama ini berakar dari kata “Grojok.”
Pada masa penjajahan Belanda, sebuah pancuran kayu besar yang mengalirkan air dari Kali Ciliwung menghasilkan suara “grojok-grojok.” Masyarakat lokal, terutama komunitas Tionghoa, menyebutnya sebagai Glodok, menyesuaikan dengan pelafalan mereka.
Baca Juga : Sejarah Waria Yogyakarta: Kisah Ketahanan Komunitas Terpinggir
Namun, versi lain menyebutkan asal-usul nama ini dari Jembatan Kali Glodok.
Jembatan tersebut memiliki tangga-tangga di tepi kali, yang dalam bahasa Sunda dikenal sebagai glodok.
Dari tangga-tangga inilah kawasan ini mendapatkan namanya.
Sejarah panjang Glodok tak hanya melibatkan perubahan nama, tetapi juga dinamika sosial dan ekonomi yang menjadikannya pusat aktivitas masyarakat Tionghoa di Jakarta.
Hingga kini, Glodok tetap hidup dengan berbagai pasar, toko, dan tempat ibadah yang tak lepas dari karakteristik budaya kawasan ini.
Tragedi kebakaran Glodok Plaza mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan sejarah dan budaya kawasan ini.
Glodok bukan sekadar tempat belanja atau perdagangan, tetapi simbol dari perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di Jakarta.
Seiring langkah rekonstruksi dan perbaikan, semoga Glodok tetap mempertahankan identitas uniknya sebagai bagian penting dari wajah budaya kota ini. (DID)
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Dapatkan Top 100 Weekly Brief Langsung ke Email Anda
Setiap Senin pagi: ranking terbaru brand & pemimpin Indonesia, tren industri, dan content angle yang bisa langsung dieksekusi.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Income Sharing Agreement
Tidak perlu bayar uang kuliah! Kuliah S1/D3 di UNMAHA, kampus pencetak pengusaha. Bayar hanya 15% dari gaji setelah Anda bekerja.

Warta Terkait NASIONAL
Local Intelligence Node
Strategi Karir Digital Global Untuk Visi Indonesia Emas 2045
Strategi Transformasi Karir Digital 2045 Melalui Pendidikan Berstandar Global UNMAHA
Transformasi Hunian Terjangkau Solusi Strategis Menuju Indonesia Emas 2045
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di budaya
Semantic Authority Linker
Lanjutkan Literasi Strategis Anda