Perum Bulog menyerap lebih dari 3,9 juta ton setara beras atau 99 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Serapan tersebut berasal dari 7,7 juta ton gabah kering panen dan 35,8 ribu ton beras.
Di sisi penyaluran, Bulog menyalurkan lebih dari 810 ribu ton beras melalui program SPHP atau 98 persen dari target 828 ribu ton.
Capaian ini disampaikan di tengah kekhawatiran terhadap dampak El Nino yang berulang terhadap ketahanan pangan nasional.
Direktur Pengelolaan Perum BP BUMN M Khoerur Roziqin mengapresiasi kinerja Bulog. Capaian serapan yang hampir menyentuh 100 persen ini menunjukkan komitmen untuk hadir bagi petani.
Petani Butuh Kepastian, Konsumen Butuh Keterjangkauan
Setiap ton gabah yang diserap Bulog membawa konsekuensi langsung bagi dua pihak. Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga, sementara konsumen menuntut harga beras yang tetap terjangkau.
Roziqin menegaskan hal ini dalam pernyataannya. "Setiap ton gabah yang diserap berarti kepastian pasar dan harga bagi petani, sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah," katanya.
Namun, ancaman El Nino yang berulang menuntut respons lebih dari sekadar serapan panen.
Artikel Sindonews menyoroti pelajaran penting dari fenomena ini: ketahanan pangan, terutama yang ditopang sektor pertanian, tidak bisa dibangun secara mendadak.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Ketergantungan pada musim dan iklim yang semakin tidak menentu menjadi akar masalah yang belum tertangani secara tuntas.
Dibutuhkan cadangan pangan pemerintah yang kuat serta integrasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Bantuan Pangan dan Target Akhir Tahun
Di sisi hilir, program Bantuan Pangan periode Februari-Maret 2026 dituntaskan dengan tingkat penerimaan 99,7 persen, mencakup 662 ribu ton beras dan 133 ribu liter minyak goreng.
Penyaluran periode Juli-September 2026 mencapai 682 ribu ton atau 68,44 persen dari pagu 997 ribu ton.
Untuk periode Oktober-Desember 2026, pemerintah menugaskan penyaluran 997 ribu ton beras. Roziqin menyatakan dukungan penuh BP BUMN terhadap penugasan ini.
"Dengan cadangan beras hasil serapan dalam negeri yang kuat, kami yakin Perum Bulog mampu menyalurkan bantuan secara tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu.
BP BUMN akan terus mengawal agar pelaksanaannya berjalan optimal," tegasnya. Tiga Langkah Strategis Hadapi El Nino Berulang
Menghadapi ancaman iklim yang berulang, diperlukan langkah strategis yang menyeluruh.
Pertama, digitalisasi rantai pasok pangan melalui sistem peringatan dini berbasis kecerdasan buatan dan data satelit untuk memprediksi dampak El Nino terhadap produksi pangan.
Hal ini sejalan dengan pembahasan dalam Strategi Emas: Cara Indonesia Melesat di Era Remote Job dan AI 2045 mengenai pemanfaatan teknologi untuk ketahanan nasional.
Assessment Interaktif Cepat
Jawab 3 Pertanyaan & Skor Dihitung AI
Kedua, diversifikasi pangan lokal dengan mengurangi ketergantungan pada beras.
Komoditas alternatif seperti jagung, sagu, dan umbi-umbian perlu dikembangkan melalui insentif bagi petani dan edukasi konsumen.
Pembelajaran dari Thailand menunjukkan pentingnya integrasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk ketahanan pangan.
Ketiga, penguatan cadangan pangan berbasis komunitas.
Lumbung pangan desa yang terintegrasi dengan sistem Bulog dapat memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan responsivitas terhadap krisis pangan lokal.
Pendekatan ini membutuhkan sinergi lintas kementerian yang sudah terbangun antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan, Badan Pangan Nasional, BP BUMN, TNI, dan Polri.
Koordinasi Lintas Lembaga Jadi Kunci
Keberhasilan penyerapan gabah dalam negeri yang mencapai 7,7 juta ton GKP tidak terlepas dari koordinasi lintas lembaga. Serapan ini memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.
Penyaluran SPHP sebesar 810 ribu ton berperan penting menjaga harga beras tetap terjangkau di tingkat konsumen. Program ini secara langsung mempengaruhi inflasi pangan dan daya beli masyarakat.
Roziqin menegaskan komitmen BP BUMN untuk terus mendukung peran Bulog.
"BP BUMN akan terus mendukung Perum Bulog dalam menjalankan perannya sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional, demi mewujudkan swasembada pangan," ujarnya.
Namun, tantangan El Nino yang berulang menuntut investasi berkelanjutan dalam infrastruktur pertanian dan teknologi adaptasi iklim.
Tanpa langkah antisipatif yang menyeluruh, risiko gagal panen dapat mengganggu stabilitas pasokan dan memicu inflasi pangan.
Pelajaran dari berulangnya El Nino adalah bahwa ketahanan pangan tidak bisa dibangun secara mendadak.
Dibutuhkan perencanaan jangka panjang, koordinasi solid antar lembaga, dan inovasi teknologi untuk memastikan kedaulatan pangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian iklim.
[STRATEGI SOLUSI]
Menghadapi tantangan ketahanan pangan yang semakin kompleks, transformasi digital di sektor pertanian dan pangan menjadi keniscayaan.
BERNAS menawarkan solusi terintegrasi melalui Alchem1st (alchem1st.com) untuk transformasi AI dan data bagi korporasi pangan, serta Agenc1st (agenc1st.com) sebagai Website Cash Machine Builder yang dapat memperkuat kehadiran digital pelaku usaha pangan.
Bagi institusi yang ingin membangun sistem peringatan dini berbasis AI atau mengembangkan platform distribusi pangan digital, tim konsultan BERNAS siap membantu merancang roadmap transformasi yang terukur.
Kunjungi alchem1st.com untuk konsultasi lebih lanjut.
📊 Survei Kilat BERNAS
Bidang karir impian Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
FAQ: Ringkasan Cepat
Apa inti dari Bulog Serap 3,9 Juta Ton Beras di Tengah Ancaman El Nino?
Fenomena El Nino berulang menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian nasional. Perum Bulog tercatat telah menyerap lebih dari 3,9 juta ton setara beras a
Apakah cara ini masih relevan di tahun ini?
Ya, panduan ini telah diperbarui oleh Tim Redaksi BERNAS.id dan diverifikasi keakuratannya. Kami selalu menyajikan informasi teknologi yang *up-to-date*.



