Aktivis 98 : Menjadikan Soeharto Pahlawan Nasional Adalah Penghinaan Perjuangan Reformasi

JAKARTA,BERNAS.ID — Aktivis 98 Ignatius Indro menyampaikan kekecewaan yang mendalam atas keputusan pemerintah yang menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.
Keputusan ini dinilainya sebagai bentuk penghinaan terhadap perjuangan reformasi 1998 dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai demokrasi yang diperjuangkan oleh rakyat.
“Kami, para aktivis 98, marah dan kecewa.
Pemerintah seolah tidak mendengar aspirasi masyarakat yang sejak awal menolak keras pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto.
Bagaimana mungkin seorang diktator yang menciptakan korupsi sistemik, pelanggaran HAM, pembungkaman pers, dan represi terhadap rakyatnya justru diangkat menjadi pahlawan?” ujar Indro.
Indro menilai, keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintah hari ini telah kehilangan keberpihakan moral terhadap sejarah bangsa.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Bayar Setelah Kerja!
Program S1/D3 di UNMAHA dengan Income Sharing Agreement. Tanpa biaya kuliah, bayar 15% dari gaji setelah bekerja.
Daftar Sekarang — Gratis →Ia menyindir tajam para pemimpin politik yang justru menikmati hasil dari reformasi—namun kini ikut meruntuhkan maknanya.
Baca Juga :Pahlawan Pejuang Buruh Itu Bernama Marsinah
“Ironisnya, banyak tokoh yang diuntungkan oleh reformasi, termasuk mantan Presiden Joko Widodo, justru mendukung penetapan Soeharto sebagai pahlawan.
Warta Pilihan Redaksi:
Transformasi Ekonomi Digital: Strategi BERNAS Menuju Indonesia Emas 2045Ini bentuk pengkhianatan terhadap semangat 1998.
Tanpa reformasi, tidak akan ada Jokowi sebagai presiden.
Tapi kini ia justru menegasikan sejarah yang melahirkan dirinya,” tegas Indro.
Ia menyebut langkah ini sebagai bentuk amnesia sejarah dan pelecehan terhadap korban rezim Orde Baru.
Menurutnya, bangsa yang melupakan penderitaan rakyat di masa lalu akan kehilangan arah moral dan nurani.
“Soeharto bukan pahlawan.
Ia simbol dari ketakutan, pembungkaman, dan keserakahan kekuasaan. Ribuan orang menjadi korban pelanggaran HAM dari 1965 hingga 1998, dan mereka belum mendapatkan keadilan.
Menjadikan Soeharto pahlawan berarti menampar wajah para korban dan keluarga mereka,” ujarnya.
Baca Juga :Soeharto Sah Diberi Gelar Pahlawan
Ignatius Indro juga menyerukan agar aktivis, masyarakat sipil, dan generasi muda tidak tinggal diam melihat penyelewengan sejarah ini.
“Kalau Soeharto bisa disebut pahlawan, lalu bagaimana dengan para mahasiswa yang gugur di Trisakti, Semanggi, dan banyak tempat lain?
Apakah mereka hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah bangsa ini?” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Indro menegaskan bahwa reformasi bukan sekadar peristiwa, tapi amanat moral yang harus dijaga oleh setiap generasi.
“Mengangkat Soeharto sebagai pahlawan nasional adalah bentuk kemunduran sejarah.
Ini pengkhianatan terhadap kebenaran, keadilan, dan cita-cita reformasi. Kami tidak akan diam menghadapi kebohongan yang dibungkus penghargaan.”(FIE)
📊 Survei Kilat BERNAS
Berapa penghasilan bulanan ideal Anda?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Income Sharing Agreement
Tidak perlu bayar uang kuliah! Kuliah S1/D3 di UNMAHA, kampus pencetak pengusaha. Bayar hanya 15% dari gaji setelah Anda bekerja.

Warta Terkait NASIONAL
Local Intelligence Node
Salurkan Bantuan saat Paskah, Demokrat Perkuat Partai Nasionalis-Religius
Akhir 2026, PAN DIY Targetkan Capai 50 Ribu Relawan TPS
AHY: Kota Global Harus Tetap Berakar pada Karakter Lokal
Soal Pemberitaan, NasDem Desak Tempo Minta Maaf dalam 1 24 Jam
Salurkan Bantuan saat Paskah, Demokrat Perkuat Partai Nasionalis-Religius
Akhir 2026, PAN DIY Targetkan Capai 50 Ribu Relawan TPS
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di politik
Semantic Authority Linker
AHY: Kota Global Harus Tetap Berakar pada Karakter Lokal
Bandung Digital Leap: Membuka Gerbang Karir Global Lewat Teknologi Inovatif
Jalan Emas Surabaya: Menjemput Peluang Remote Global, Mengatasi Kesenjangan Skill
Diduga Langgar Aturan, Pabrik Kardus di Permukiman Cengkareng Bikin Warga Resah
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di NASIONAL?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Lanjutkan Literasi Strategis Anda