Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Khawatir Potensi Pondok Pesantren Jadi Klaster Baru, Ini Pesan Wapres

Oleh: Redaksi Bernas•19 Juli 2020
Khawatir Potensi Pondok Pesantren Jadi Klaster Baru, Ini Pesan Wapres
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Wakil Presiden Ma ruf Amin mengingatkan bahwa pondok pesantren dapat menjadi klaster baru penyebaran virus corona jika tidak dilakukan pencegahan. Kekhawatiran..."

🗓️ Dipublikasikan pada 19 Juli 2020.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita kesehatan terbaru →

BERNAS.ID – Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengingatkan bahwa pondok pesantren dapat menjadi klaster baru penyebaran virus corona jika tidak dilakukan pencegahan. Kekhawatiran akan potensi jadi klaster baru bisa dicegah dengan mempersiapkan prosedur penerimaan kembali santri sesuai protokol kesehatan Covid-19. 

“Kalau tidak dipersiapkan dengan baik, ini (pesantren) bisa menjadi klaster baru. Ini yang saya lebih takutkan,” ungkapnya dalam video yang diunggah di akun Youtube resmi Wakil Presiden Republik Indonesia, dikutip Bernas.Id pada Senin (20/7/2020). 

Penularan virus corona terjadi antarmanusia apalagi di tempat pendidikan berbasis asrama.

Ia menjelaskan penyebaran Covid-19 di kalangan pesantren dapat terjadi secara cepat karena umumnya santri dan para pengasuh atau pengajar berasal dari berbagai daerah.

Oleh karenanya, persiapan rapid test maupun penyediaan sarana kesehatan di pondok pesantren harus dipastikan siap sebelum menerima santri kembali ke asrama.

“Pesantren ini kan kalau tidak dipersiapkan, ini bisa bahaya. (Misalnya) Datang anak, kemudian ada yang terpapar, maka itu bisa menjadi klaster baru di pesantren itu,” sambung Wapres. 

Ma'ruf Amin mengakui tak sedikit pesantren yang kondisinya kurang layak untuk dihuni secara berkelompok. Menurut pengalaman pribadinya, misalnya kamar tidur yang diisi lebih dari kapasitas seharusnya. 

“Pesantren kan banyak yang tempatnya dempet-dempetan, (ada yang) satu kamar itu mestinya lima orang tapi dipakai untuk 15 orang.

Saya kan alumni pesantren, jadi tahu, memang pesantren itu kan begitu apa adanya.” 

Tak mudah mengatur puluhan hingga ratusan anak didik di pondok pesantren apalagi di tengah pandemi Covid-19. Ia pun meminta agar pengurus pondok pesantren ketika ingin menjalankan kembali kegiatan belajar dan mengajar secara tatap muka harus menerapkan protokol kesehatan. (mta)

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram