JAKARTA,BERNAS.ID – Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional, Nadiem Makarim dihimbau tidak usah terburu-buru membuka kembali sekolah dalam mengikuti kebijakan new normal atau kehidupan normal baru
Demikian disampaikan pakar komunikasi politik, Emrus Sihombing, menyingkapi polemik pro kontra pembukaan sekolah kembali.
Menurut Emrus, pro kontra kebijakan hal yang biasa. Apalagi Indonesia merupakan negara demokrasi. Pandemi Covid-19 diakui belum dapat dihindari.
Namun, negara harus terus berjalan. Akan tetapi, perlu mengedepabkan protokol kesehatan.
“Ada dua hal yang perlu dilakukan Menteri Nadiem. Kedua hal itu yakni, Nadiem dapat menjalankan pendidikan alternatif menggunakn tekonologi (virtual), atau jalankan pendidikan konvensional, dengan datang ketempat pendidikan,” terang Emrus, Selasa (2/6/2020).
Apabila mengambil pendidikan alternatif sambung Emrus, pemerintah harus menyediakan dan membantu fasilitas bagi sekolah-sekolah baik negeri maupun yang tidak punya kemampuan teknologi pendukung.
Hal itupun pemerintah perlu memperhatikan siswa-siswi yang kurang mampu, guna mengikuti pendidikan alternatif berlandaskan teknologi aplikasi, seperti telepon genggam dan laptop bagi mahasiswa.
“Planning besar kementetian kita. Kenapa tidak disetting dengan teknologi,” paparnya.
Hal kedua, apabila pemerintah tetap menggunakan cara konvensional, maka perlu dilakukan pilot project.
“Jadi selama 1 bulan lakukan pilot project di sekolah pada zona penyebaran Covid-19 merah, kuning dan hijau. Serelah satu bulan lakukan evaluasi, lihat permasalahan yang terjadi, apa yang harus diperbaiki.
Kalau ada masalah kembalikan,” jelasnya.
Selanjutnya, Emrus menambahkan lakukan kembali di sekolah lain. Namun, dengan tetap dalam zona yang sama merah, kuning dan hijau. Lakukan selama satu bulan, selanjutnya lakukan evaluasi.
“Jadi jangan terburu-buru buka sekolah.
Harus berhati-hati karena ini menyangkut nyawa. Jadi penting perlu pilot project, evaluasi sebelum membuka sekolah secara konvensional,” pungkasnya.(fir)

