Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Tepis Stigma Sulit, P4TK Matematika Jogja Canangkan Gerakan AJarMat ke Sejumlah Kota

Oleh: Redaksi Bernas•25 November 2019
Tepis Stigma Sulit, P4TK Matematika Jogja Canangkan Gerakan AJarMat ke Sejumlah Kota
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Tepis Stigma Sulit, P4TK Matematika Jogja Canangkan Gerakan AJarMat ke Sejumlah Kota..."

🗓️ Dipublikasikan pada 25 November 2019.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita pendidikan terbaru →

SLEMAN, BERNAS.ID- Menepis anggapan Matematika itu susah dan menakutkan, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika melakukan pencanangan Gerakan Ayo Belajar Matematika (AJarMat) di tujuh titik lokasi perwakilan di wilayah Indonesia pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Tujuh titik lokasi Gerakan AJarMat, yaitu Aceh Tamiang, Jakarta Timur, Bogor, Pontianak, Makassar, Denpasar, dan Sumba Tengah.

Pencanangan Gerakan AJarMat akan dilakukan serentak di seluruh wilayah melalui video conference di P4TK Matematika  Yogyakarta, Rabu 27 November 2019. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Dr Supriano MEd, akan membuka pencanangan tersebut dengan didampingi Kepala PPPTK Matematika Yogyakarta, Dr Daswatia Astuty, MPd beserta Kepala Bidang Program dan Informasi, Dr Rachmadi Widdiharto, MA sebagai pencetus Gerakan AJarMat.

Dr Rachmadi Widdiharto, MA sebagai pencetus Gerakan AJarMat mengatakan tujuan dari gerakan ini untuk melatih para guru matematika agar mampu mengubah stigma matematika yang sulit dan menakutkan menjadi menyenangkan, mudah dipahami, dan tidak diawang-awang. “Kami ingin melatih guru matematika, lalu nantinya guru tersebut mendeseminasikannya kepada koleganya untuk diajarkan kepada siswanya,” katanya ketika konferensi pers di di P4TK Matematika  Yogyakarta, Jl Kaliurang Km 6, Rabu 27 November 2019.

Selain itu, Dr Rachmadi Widdiharto juga ingin memanfaatkan peran guru yang memiliki dua kaki, misal sisi formal di sekolah dan sisi nonformal di luar sekolah. “Mereka guru itu juga anggota kelompok masyarakat lho.

Peran ganda guru ini yang akan kita gunakan untuk masuk ke jenjang informal seperti keluarga dan nonformal ke anggota masyarakat,” ujarnya.

Dengan buku saku kecil AJarMat, lanjut Dr Rachmadi, tujuannya untuk bagaimana bisa membangun iklim pendampingan orangtua untuk anaknya di jenjang SD atau di komunitas warga seperti PKK, Dasawisma, kelompok pengajian, dan forum orangtua murid. “Inisiasi ini, kita sudah mulai bulan Maret tahun ini, lalu Juli kita lakukan pembekalan untuk Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Nantinya, kader AJarMat ini akan memperoleh sertifikat setelah mendapat pembekalan,” tuturnya.

Dr Rachmadi menyebut Gerakan AJarMat ini akan mampu mengembangkan penalaran dan pemikiran kritis anak dan menyasar kepada orangtua, serta masyarakat bahwa matematika ada di sekitar kita, misal ketika ibu yang pulang dari belanja, bagaimana cara menghitungnya.

Sedangkan, Dr Sri Wulandari Danoebroto, SSi, MPd, Widyaiswara P4TK Matematika mengatakan Gerakan AJarMat untuk mendorong supaya anak mau belajar matematika dan mengubah mindset tentang belajar matematika. “Matematika masih memiliki stigma negatif, bahkan bisa jadi stigma negatif itu berasal dari keluarganya sendiri,” katanya.

Ia menegaskan matematika itu bukan sekedar hitung-hitungan dan rumus saja, tapi berada di sekitar kita. “Kita ingin menampilkan wajah matematika yang humanis,” tutupnya. (jat)

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram