Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Maarif Institute: Sekolah Garda Terdepan Sosialisasi Multikulturalisme dan Toleransi

Oleh: Redaksi Bernas•24 Maret 2019
Maarif Institute: Sekolah Garda Terdepan Sosialisasi Multikulturalisme dan Toleransi
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Maarif Institute: Sekolah Garda Terdepan Sosialisasi Multikulturalisme dan Toleransi..."

🗓️ Dipublikasikan pada 24 Maret 2019.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita pendidikan terbaru →

SLEMAN, BERNAS.ID- Baru-baru ini, Jumat 15 Maret 2019, dunia dikejutkan oleh aksi teror yang menewaskan 50 orang yang tengah beribadah di masjid Al Noor Riccarton dan Linwood Islamic Center, keduanya di Kota Christchurch, Selandia Baru. Tiga hari berikutnya, Senin, 18 Maret 2019, terjadi penembakan brutal di dalam Trem di kota Utrecht, Belanda, yang memakan tiga korban jiwa.

Kedua aksi teror ini membuktikan bahwa kebencian bukan monopoli satu agama atau ideologi tertentu. Di lndonesia, aksi teror kerap dikaitkan dengan Islam karena faktor motif dan agama pelakunya.

Padahal di samping faktor agama/ideologi, ada tindakan kekerasan serupa teror yang motifnya karena kepentingan politik seperti yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Nduga, Papua, atau karena kebencian terhadap mazhab tertentu seperti pernah terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Banten; di Sampang, Madura, Jawa Timur; dan di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Selain itu bahkan ada juga kekerasan yang dipicu karena fanatisme supporter sepak bola seperti yang menimpa Haringga Sirla (supporter Persija, Jakarta) yang tewas dikeroyok supporter Persib Bandung.

?Berbagai peristiwa di atas memberi pelajaran penting bahwa dengan motif apa pun, tindakan teror dan kekerasan selalu menimbulkan dampak yang sangat buruk dan menjadi ancaman paling serius bagi kemanusiaan,? kata Abd Rohim Ghazali dari Maarif Institute, Senin 25 Maret 2019.

?Oleh karena itu, mempromosikan toleransi dan multikulturalisme menjadi sangat urgen untuk memperkuat ikatan persaudaraan dan kebangsaan kita. Dari mana memulainya?

Dari bangku sekolah. Pendidikan di sekolah harus dijadikan sarana untuk mempromosikan toleransi sekaligus menghalau intoleransi dan kebencian,?

tandas Abd Rohim Ghazali yangjuga Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden.

Untuk itulah, MAARIF Institute bekerja sama dengan Inspektorat Ill ltjen Kemendukbud RI menggagas program Penguatan Kapasitas Auditor dan Pengawas Sekolah dalam Mempromosikan Toleransi dan Multikulturalisme di Sekolah. ?Program ini bertujuan memperkuat pengetahuan dan keterampilan para auditor dan pengawas sekolah dalam rangka merawat dan mempromosikan toleransi dan multikulturalisme sebagai ihtiar menghalau kebencian. Melalui program ini kita memiliki harapan besar bagi pendidikan di Indonesia yang mampu mengokohkan kebinekaan,” ujar Ir Muhaswad Dwiyanto, MPd selaku Inspektur Ill Itjen Kemendikbud Rl. 

Salah satu kegiatan pada program ini adalah pelatihan pengawas sekolah yang dilaksanakan di lima kota, yakni Yogyakarta, Malang, Manado, Mataram, dan Denpasar.

Sebagai kegiatan pembuka, pelatihan pengawas sekolah digelar di Yogyakarta pada tanggal 25-27 Maret 2019 di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika Yogyakarta.

Kegiatan ini dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Bapak Prof Dr Muhadjir Effendy, MIP dan dihadiri tokoh utama Pendiri Maarif lnstitute Prof Dr Ahmad Syafii Maarif.

(jat)

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram