Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Tak Hanya Konservasi, UNESCO Berdayakan Masyarakat di Kawasan Situs Pariwisata Internasional

Oleh: Redaksi Bernas•14 Mei 2018
Tak Hanya Konservasi, UNESCO Berdayakan Masyarakat di Kawasan Situs Pariwisata Internasional
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Dalam acara Creative Youth Workshop yang menitikberatkan pada potensi lokal di Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiawati, pembicara Unesco, Culture Unit me..."

🗓️ Dipublikasikan pada 14 Mei 2018.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita daerah terbaru →

Bernas.id – Dalam acara Creative Youth Workshop yang menitikberatkan pada potensi lokal di Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiawati, pembicara Unesco, Culture Unit menjelaskan bahwa pihaknya selain memberikan program konservasi, tetapi juga memberikan program pemberdayaan kepada masyarakat.

?Selain memberikan konservasi kepada Candi Borobudur sebagai salah satu situs pariwisata dunia, tetapi juga mengajak masyarakat di sekitar Candi Borobudur untuk upaya melakukan pelestarian agar memiliki rasa memiliki,? katanya di Auditorium Fisipol UGM, Selasa 15 Mei 2018.

Diceritakan Diana, awalnya hanya melakukan pemberdayaan di delapan desa. ?Lima desa di Borobudur dan bergerak di kawasan Prambanan. Kami melakukan pendampingan, melakukan survei, apakah ada potensi-potensi. Kita memotret ada banyak potensi, misal produk-produk batik, kuliner, dan pariwisata berbasis komunitas,? ucapnya.

Akhir 2016, lanjut Diana, kami mendapatkan undangan dari Citi Fondation untuk ikut mengajukan proposal karena Citi Fondation bergabung dengan pihak Unesco, yang sama-sama memiliki program-program untuk melakukan support guna mengembangkan batik yang berbasis budaya.

?Program ini mempunyai beberapa aktivitas, seperti melalui mapping dulu agar tidak melakukan pendataan secara serampangan dengan Bapeda di setiap provinsi.

Kami kulonuwun dulu, kemudian mendapat data dari Bappeda. Kami juga melakukan door to door interview untuk melihat apakah yang dicalonkan itu memenuhi syarat kita atau tidak.

Program kami untuk mereka yang sudah mempunyai usaha,? bebernya.

Selain itu, Diana juga menyebut bahwa pihaknya juga mengembangkan Youth Center atau sanggar di Borobudur dan Klaten, misal Cafe Nujiwa di Borobudur yang dikelola masyarakat. ?Target kami memberikan pelatihan, pembekalan usaha marketing dan promosi yang bekerjasama dengan Bank Indonesia.

Bagaimana teman-teman punya usaha sudah menyadari belum keunggulannya apa, kalau ada yang jual kuliner keistimewaannya apa, apa yang membedakan dengan yang lain.

Kalau penjual batik, bagaimana brandingnya. Inilah yang kami coba tawarkan ke teman-teman,? paparnya.

Disampaikan Diana, di Klaten, kami kebetulan Juga melakukan intervensi di kawasan Bayat yang sangat terkenal batik tulisnya dan kebetulan ada kelompok batik tulis Kebon Indah yang sukses mengembangkan usahanya dari zero to hero. ?Sebelumnya, mereka ini cuma buruh.

Brand Solo yang terkenal pun order produk jadi di Batik Kebon. Mereka memakai pewarna alam dan direspon dengan sangat positif.

Dari 2010 sejak membentuk kelompok sendiri sampai 2017 omset mereka sudah lebih dari 6 milyar,? ujarnya. (Jat)

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram