Bernas.id – Pulau Kelor dan Pulau Onrust telah dibahas pada artikel bagian 1 dan 2. Dua lainnya, Pulau Cipir (atau biasa disebut juga Pulau Khayangan) serta Pulau Bidadari juga termasuk dalam 4 serangkai pulau bersejarah dalam kelompok Pulau Taman Arkeologi di Kepulauan Seribu, Jakarta. Terdapat banyak kisah bersejarah serta situs kuno peninggalan zaman penjajahan yang telah ikut membentuk sejarah ibu kota negara kita tercinta.
Pulau Cipir atau Pulau Khayangan, Saksi Bisu Karantina Haji Oleh Pemerintah Kolonial Belanda
Keindahan Pulau Khayangan yang berpasir putih nan elok sangat sesuai dengan namanya.
Tapi siapa sangka, keindahan yang tampak menyimpan sisi kelam sejarah masa lalu Kota Batavia pada jaman penjajahan Belanda.
Ada sebuah bangunan yang pada masa pemerintahan kolonial Belanda merupakan bangsal rumah sakit. Saat Belanda kalah perang dari Jepang, Jepang yang berkuasa menjadikan bangsal itu sebagai tempat hukum gantung untuk orang Belanda dan pribumi. Sebelumnya, rumah sakit itu juga pernah dijadikan tempat karantina penyakit menular serta berfungsi sebagai tempat karantina haji.
Mengapa Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu mengkarantina orang-orang yang naik haji?
Alasan yang dikemukakan seolah untuk menjaga kesehatan ternyata hanya merupakan kamuflase belaka. Sesungguhnya, pemerintah kolonial khawatir terhadap meluasnya gerakan yang akan menentang penjajahan di masa itu.
Pulau Kelor, Pulau Cipir (Pulau Khayangan) dan Pulau Onrust adalah pulau-pulau kesatuan yang sangat indah namun menyimpan cerita sejarah, mulai masa awal kedatangan orang-orang Belanda ke Indonesia hingga berlangsungnya masa kolonial.
Selain ketiga pulau tersebut, Pulau Bidadari dan Pulau Edam juga menyimpan puing-puing bangunan bersejarah masa lalu, saat pemerintahan kolonial Belanda masih menguasai Indonesia.

