YOGYAKARTA, HarianBernas.com ? Lebih dari 2.000 Orang Muda Katolik (OMK) dari 20 negara di Asia termasuk Indonesia berkumpul dalam perhelatan Asian Youth Day (AYD) ke-7. Pertemuan tiga tahunan pada tahun ini mengusung tema ?Joyful Asian Youth, Living the Gospel, in Multicultural Asia?.
Indonesia khususnya Keuskupan Agung Semarang (KAS) menjadi tuan rumah penyelenggara AYD ke-7. Sebelumnya, Thailand, Taiwan, India, Hong Kong, Filipina dan Korea Selatan sebagai tuan rumah AYD di tahun-tahun sebelumnya.
AYD merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh pendamping OMK di Asia dan disetujui oleh Federation of Asian Bishop Conference (FABC).
?Perjumpaan OMK ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi OMK berbagi kisah dan harapan untuk Gereja Katolik di Asia serta mendorong keterlibatan OMK sebagai saksi suka cita Injil dalam dialog multicultural,? ungkap Romo Yohanes Dwi Harsanto Pr., selaku Ketua Tim Pengarah AYD ke-7 melalui siaran pers yang dikutip HarianBernas.com, Rabu (2/8/17).
Para peserta AYD sudah merasakan kesempatan mengenal Indonesia dan budaya-budaya yang merupakan kekayaan Tanah Air melalu Days in Diocese (DID) atau live in mulai 30 Juli hingga 2 Agustus. Live in ini berlangsung di beberapa daerah di Indonesia seperti Palembang, Denpasar, Makasar, Pontianak, Jakarta, Bogor, Bandung, Purwokerto, Malang, Surabaya, dan Semarang.
Mereka merasakan sendiri semangat berbagai, hidup bersama keluarga-keluarga di Indonesia dengan beragam budaya, kesenian, bahasa, agama, suku, dan ras.
Salah satu lokasi live in di daerah Sumber, Magelang, Jawa Tengah.
Merek Mereka belajar kesenian-kesenian yang ada di daerah setempat dan ikut tampil pada gelar budaya, Selasa (1/8/17) malam. Sesuai dengan tema AYD ke-7 ?multicultural Asia?
mereka belajar tentang kearifan lokal di tempat DID.
Peserta AYD dari Bangladesh, Laos, Korea Selatan, Pakistan, Nepal maupun peserta dari Indonesia berbaur dengan masyarakat untuk menampilkan kesenian tradisonal daerah seperti jatilan, tari kontemporer, soreng, dayak grasak, kobro siswo. Para peserta AYD hanya berlatih beberapa jam saja dan berhasil menampilkan tampilan yang mengundang decak kagum masyarakat.
?Sangat luar biasa karena dengan melihat dari pelatih dan akhirnya mencoba dengan durasi latihan cuma 3 jam mereka langsung bisa mengikuti dengan sangat baik,? ungkap Matius Riki selaku Koordinator Kunjungan Multikultural wilayah Sumber sekaligus pembawa acara gelar budaya.
Gelak tawa para warga setempat yang datang ke lokasi pementasan gelar budaya makin ramai saat tahu para ada penari-penari dari luar negeri.
?Lucu-lucu, tapi senang orang Korea kok joget (menari) jatilan.
Gerakannya melelahkan tapi mereka tetap semangat. Padahal pakai topengnya berat, tidak pakai alas kaki,? ungkap seorang penggamel yang namanya tak mau disebutkan ditemui HarianBernas.com, Selasa malam.

