HarianBernas.com – Secara administratif, Kasepuhan Ciptagelar terletak di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, atau sekitar 28 kilometer dari lokasi wisata Pelabuhan Ratu, di pantai selatan pulau Jawa. Namun secara adat, Ciptagelar adalah Ibu Kota bagi 568 kampung lainnya yang dihuni 30.000 jiwa di areal seluas hampir 5.000 hektar.
Pada ketinggian 1.100 sampai 1.200 meter di permukaan laut inilah sistem pertanian tepat guna yang juga dibungkus dengan adat dan mitos diterapkan. Kasepuhan Ciptagelar termasuk pula dalam bagian Kesatuan Adat Banten Kidul.
Di Indonesia sendiri, rata-rata lahan pertanian padi dipanen satu tahun dua kali yang sebagian diantaranya menerapkan sistem pertanian modern lengkap dengan subsidi benih dan pupuk.
Hal tersebut rata-rata hanya cukup untuk delapan bulan atau paling lama satu tahun dengan 600 gudang beras Bulog di seluruh Nusantara.
Sedangkan hasil atau cadangan Kasepuhan Ciptagelar dapat cukup hingga tiga tahun dengan 8.000 lumbung padi.
Cadangan beras Indonesia juga dipenuhi dari impor, sedangkan adat di Ciptagelar justru sangat melarang beras dijadikan sebagai komoditas yang diperjual-belikan. ?Disini, bertani itu bukan mata pencaharian. Bertani adalah kehidupan.
Bagaimana mungkin kami menjual kehidupan.? Ujar Yoyo, salah satu warga yang juga kerap menjadi juru bicara kampung adat Ciptagelar.
Dengan adanya larangan menjual beras, membuat stok beras di lumbung-lumbung warga Ciptagelar tak pernah surut. Satu lumbung kecil saja dapat menampung 500 ikat padi yang mana cukup untuk menghidupi satu keluarga kecil selama satu tahun.
Apabila dilihat dari segi skala, lumbung beras di Bulog untuk mengamankan 230 juta jiwa masyarakat Indonesia, sedangkan lumbung yang terapat di Ciptagelar untuk menjaga ketahanan pangan 29.000 warga Kasepuhan.
Satu gudang Bulog di Indonesia untuk mengaal 383.000 perut masyarakat, sedangkan satu lumbung di Ciptagelar untuk menjaga pangan 3.600 jiwa.
Akan tetapi, menurut data yang di dapat dari Badan Pertahanan Nasional (BPN), apabila seluruh daratan di Indonesia digabung, luasnya mencapai 180 juta hektar. Dari daratan yang seluas itu, yang digunakan untuk sawah tanaman pangan hanya 8,1 juta hektar atau tak lebih dari lima persennya.
Namun, di Ciptagelar, yang dipergunakan sebagai areal tanaman pangan mencapai 10 persen, dengan tetap membiarkan sisanya menjadi hutan yang juga berfungsi untuk menjaga pasokan air demi menghidupkan lebih dari 10 turbin mikrohidro guna membangkitkan listrik yang menerangi 6.000 rumah.
Warga kampung adat Ciptagelar masih memercayai ramalan bintang sebagai alat ukur dalam menanam. Menurut Abah Ugi, yaitu pemimpin adat Kasepuhan Ciptagelar, bahwa posisi bintang dapat menandai datangnya musim penghujan.
Tidak hanya itu, posisi bintang juga dapat menandai siklus hidup hama.?
Karena kami hanya menanam padi setahun sekali, maka habitat hama tidak cukup punya banyak bahan makanan untuk berkembang biak sepanjang tahun.
Berbeda jika kita menanam setahun dua kali, hama tanaman dengan mudah beregenerasi untuk menyerang padi pada musim tanam berikutnya.? Ujarnya.
Sedangkan tentang sumber keuangan, warga di Ciptagelar masih memiliki enam bulan di luar musim padi untuk menanam aneka tanaman yang dapat diperjualbelikan, seperti sayur mayur, buah-bauahan, atau juga palawija.
Warga juga sedang giat menanam kopi yang sedang dikembangkan oleh Abah Ugi.
Tak hanya sebatas itu saja, kampung adat Ciptagelar juga memiliki saluran radio dan channel TV sendiri untuk menghibur warganya.

