Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Nyamuk Ternyata Bisa Bantu Ungkap Kasus Pembunuhan

Oleh: Redaksi Bernas•11 Juli 2017
Nyamuk Ternyata Bisa Bantu Ungkap Kasus Pembunuhan
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Nyamuk merupakan salah satu hewan yang paling dibenci oleh manusia. Wajar saja, pasalnya serangga kecil ini kerap menghisap darah manusia dan meninggalkan bento..."

🗓️ Dipublikasikan pada 11 Juli 2017.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita internasional terbaru →

HarianBernas.com ? Nyamuk merupakan salah satu hewan yang paling dibenci oleh manusia. Wajar saja, pasalnya serangga kecil ini kerap menghisap darah manusia dan meninggalkan bentol yang gatal di kulit. Nyamuk juga bisa menyebarkan penyakit-penyakit berbahaya seperti demam berdarah atau malaria jika kebetulan nyamuk sebelumnya menghisap darah penderita penyakit-penyakit tadi.

Hal-hal tadi membuat nyamuk terlihat seperti hewan yang sama sekali tidak berguna bagi manusia.

Namun tim ilmuwan dari Universitas Nagoya di jepang punya pandangan yang berbeda. Menurut tim ilmuwan pimpinan Toshimichi Yamamoto tersebut, nyamuk bisa membantu mengungkap pelaku pembunuhan.

Pendapat tersebut dibuat setelah Yamamoto dan rekan-rekannya melakukan penelitian yang melibatkan nyamuk. Setelah nyamuk menggigit dan menghisap darah para sukarelawan penelitian ini, tim ilmuwan kemudian mengambil darah yang terkandung dalam perut nyamuk dan menganalisanya memakai teknik reaksi berantai polimerase (PCR).

Hasil pengamatan mereka menunjukkan bahwa jejak DNA yang ada pada darah menunjukkan kesamaan dengan DNA orang yang digigit.

Mereka pun membuat skenario bahwa jika seorang pembunuh berhasil menewaskan korbannya tanpa meninggalkan jejak, ia masih dapat dilacak dan ditangkap jika kebetulan ada nyamuk yang menggigit sang pembunuh di tempat kejadian perkara.

Metode ini sendiri hanya bisa dilakukan maksimal dua hari sesudah terjadinya pembunuhan. Pasalnya di hari ketiga, komponen DNA yang ada di dalam darah tidak bisa lagi diidentifikasi. Yamamoto lantas berujar kalau dengan pengembangan yang tepat, metode ini juga bisa membantu memperkirakan waktu di mana nyamuk menghisap darah korbannya.

Tag:#internasional#berita

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram