HarianBernas.com – Kisah kontroversial seputar Presiden Filipina Rodrigo Duterte seolah tidak pernah habis. Kini pengakuan mengejutkan datang dari bekas anggota polisi Filipina yang bernama Arturo Lascanas. Dalam konferensi pers yang digelar pada hari Senin (20/2/2017), Lascanas mengaku kalau dirinya pernah menjadi anggota skuad pembunuh di kota Davao, Filipina selatan.
Skuad pembunuh itu sendiri didirikan atas perintah dari Duterte sendiri saat masih menjabat sebagai walikota Davao.
Kebetulan sempat menjadi presiden, Duterte pernah menjadi walikota Davao pada tahun 1988 hingga 1998, 2001 hingga 2010, dan terakhir pada tahun 2013 hingga 2016.
Tugas dari skuad pembunuh tersebut adalah melakukan pembunuhan dan pemboman terhadap kelompok militan serta pihak-pihak yang tidak sejalan dengan Duterte. Tahun 1993, Lascanas dan rekan-rekannya melakukan pemboman ke sebuah masjid di kota Davao sebagai balas dendam atas pemboman Katedral San Pedro.
Lascanas juga mengaku kalau pihaknya membunuh penyiar radio Jun Pala yang dikenal kritis terhadap Duterte. Pembunuhan tersebut terjadi pada tahun 2003 dan ia menerima bayaran 3 juta peso atas keberhasilannya membunuh Pala.
Lascanas menambahkan bahwa kerap menerima upah seusai melakukan misi-misi pembunuhan. Semakin penting targetnya, maka semakin tinggi pula upah yang diterimanya.
Lascanas bukanlah satu-satunya bekas anggota skuad kematian yang akhirnya buka mulut. Bulan September lalu, Edgar Matobato mengaku keberadaan skuad pembunuh yang berada di bawah kendali Duterte.
Menurut Matobato, skuad pembunuh tersebut beranggotakan 300 personil dan bertanggung jawab atas tewasnya lebih dari 1.000 orang.

