Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Ko Ni Dimakamkan Ribuan Orang Mengiringinya, Tapi Dimanakah Aung San Suu Kyi?

Oleh: Redaksi Bernas•31 Januari 2017
Ko Ni Dimakamkan Ribuan Orang Mengiringinya, Tapi Dimanakah Aung San Suu Kyi?
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"Ribuan masyarakat negara tersebut yang terdiri dari berbagai elemen berkumpul dalam menghadiri pemakamam Ko Ni...."

🗓️ Dipublikasikan pada 31 Januari 2017.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita internasional terbaru →

HarianBernas.com ? Pada hari Senin (30/1/2017), Myanmar berduka. Ribuan masyarakat negara tersebut yang terdiri dari berbagai elemen berkumpul dalam menghadiri pemakamam Ko Ni. Ia adalah seorang tokoh Muslim Myanmar yang merupakan pengacara dan penasihat dari Aung San Suu Kyi.  

Namun ajal menjemputnya, setelah bertandang ke Indonesia, Ko Ni pulang kembali ke Myanmar.

Di Bandara Internasional Yangon, ia ditembak di kala menunggu taksi di pelataran bandara. Ia ditembak di bagian kepala dengan jarak yang dekat, setelah melakukan pelatihan kepemimpinan yang ada di Jakarta, Indonesia.

Pada saat ditembak, Ko Ni sedang menggendong cucunya. Pada saat terjadi penembakan, pengemudi taksi pun mengejar pelaku penembakan yang kemudian juga ditembak mati.

Pada saat pemakaman Ko Ni, di samping keluarga serta kerabat, pemakaman pun dihadiri oleh aktivis partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi, kalangan pengacara, diplomat asing serta masyarakat sekitar.  

Sayangnya Aung San Suu Kyi tak terlihat dalam pemakaman Ko Ni.

Wanita yang kini menjabat sebagai State Counsellor tak nampak batang hidungnya.

Polisi menduga jika Kyi Lin (53) adalah pelaku dari penembakan tersebut. Namun hingga saat ini belum diketahui penyebab pembunuhan itu terjadi.

Putri dari Ko Ni, Yin New Khine untuk kantor berita Reuters. Menurutnya, sang ayah masih sering diancam karena memilih untuk menentang adanya pengaruh militer yang masih saja terjadi di dalam kehidupan politik.

“Kami sudah diperingatkan untuk selalu berhati-hati, namun ayah saya tak bisa menerima itu begitu saja.

Apa yang dilakukan memang apa yang dianggapnya benar,” tegas Khine.

“Memang banyak orang sangat membenci kami karena memiliki keyakinan agama yang tidak sama, jadi saya pikir bisa jadi itulah sebabnya, namun saya tidak tahu alasannya,” tambah Khine.

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram