Kagamadok UGM Prihatin Pemberhentian Dokter Piprim yang Berjuang Menjaga Marwah Profesi dan Independensi Kolegium

YOGYAKARTA, BERNAS.ID- Keluarga Alumni Kedokteran Universitas Gadjah Mada (Kagamadok) UGM menyuarakan keprihatinan atas pemberhentian dr.
Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) sebagai ASN.
Pemecatan ini dinilai sarat dengan intervensi pihak tertentu karena rekam jejak dokter Piprim yang getol memperjuangkan independensi kolegium.
Sebelumnya, dokter Piprim begitu kukuh dalam pendiriannya untuk menjalankan amanah Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak di Semarang yang memutuskan kolegium ilmu kesehatan anak harus independen, bukan berada di bawah Kementerian Kesehatan.
Perjuangannya pun membuahkan hasil dengan keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi yang menegaskan kolegium sebagai lembaga independen.
Kuliah GRATIS via Teaching Factory — Bayar Setelah Kerja!
Program S1/D3 di UNMAHA dengan Income Sharing Agreement. Tanpa biaya kuliah, bayar 15% dari gaji setelah bekerja.
Daftar Sekarang — Gratis →Ketua Umum Kagamadok UGM Dr.
dr.
Darwito, S.H., Sp.B.Subsp. Onk.
(K) menegaskan bahwa sikap organisasi dilandasi satu prinsip utama: menjaga marwah profesi kedokteran dan memastikan independensi keilmuan tidak diintervensi kekuasaan birokrasi.
“Profesi kedokteran adalah officium nobile.
Jangan sampai profesi ini diintervensi.
Kami melihat ada kecenderungan bahwa perbedaan pandangan ilmiah justru direspons dengan langkah administratif,” tuturnya kepada awak media, Rabu (19/2).
Dokter Darwito mengatakan pemecatan ini akan menimbulkan ketakutan bagi dokter-dokter lain karena kebijakan kini berujung pada pemecatan atau dipindah ke tempat yang lebih jauh.
“Nantinya, tidak akan ada yang berani bersuara.
Keprihatinan ini harus didengar semua pihak,” ucapnya.
“Menteri Kesehatan seharusnya memimpin seperti seorang bapak dalam keluarga yang memiliki kebijaksanaan,” kata Dokter Darwito.
Kemenkes Dinilai Tak Lagi Jadi Rumah Besar
Darwito menyampaikan keprihatinan atas suasana kerja yang dirasakan sejumlah tenaga medis di bawah Kemenkes.
Warta Pilihan Redaksi:
BERNAS Growth Academy: Belajar Investasi & Web3 dari NolIa menyebut munculnya ketakutan di kalangan dokter, pendidik klinis, hingga peserta didik.
“Dulu Kementerian Kesehatan adalah rumah besar tenaga kesehatan.
Sekarang muncul kesan menjadi ‘bapak yang bengis’.
Setiap perbedaan dianggap kesalahan yang harus dihukum,” tegasnya.
Menurutnya, dari berbagai informasi yang diterima Kagamadok, banyak tenaga medis yang memilih diam karena khawatir menghadapi dua konsekuensi: dipindahkan ke daerah jauh atau diberhentikan.
“Kondisi ini tidak sehat bagi iklim akademik dan profesional.
Jika orang takut bersuara, bagaimana mutu pelayanan dan pendidikan kedokteran bisa berkembang?” katanya.
Singgung Independensi Kolegium
Dalam kesempatan itu, Kagamadok juga menyinggung polemik pembentukan dan penataan kolegium oleh Kemenkes.
Darwito menegaskan bahwa kolegium pada hakikatnya merupakan lembaga keilmuan yang diisi para ahli di bidangnya dan harus bersifat independen.
Ia mengingatkan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi telah menegaskan kolegium tidak boleh berada sepenuhnya di bawah kendali birokrasi kementerian.
“Judicial review sudah dimenangkan, kolegium harus independen.
Jika semua diakuisisi dalam satu kekuasaan, itu berbahaya bagi objektivitas keilmuan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa dr.
Piprim sebelumnya aktif dalam organisasi profesi dan turut memperjuangkan uji materi terkait regulasi kolegium.
Hal itu dinilai tidak boleh menjadi alasan munculnya tindakan administratif yang merugikan.
Harapan Perubahan Kepemimpinan
Kagamadok berharap kepemimpinan di sektor kesehatan mengedepankan pendekatan kekeluargaan dan pembinaan, bukan pendekatan hukuman.
“Kalau ada perbedaan, mari duduk bersama.
Kami ini bagian dari keluarga besar kesehatan. Kalau memang perlu koreksi, lakukan dengan bijak.
Jangan represif,” ujar Darwito.
Ia menambahkan bahwa secara konstitusional, pengangkatan dan pemberhentian pejabat merupakan hak prerogatif Presiden.
Namun, ia berharap ada evaluasi terhadap pola kepemimpinan yang dinilai kurang kondusif bagi dunia kesehatan.
“Kami hanya ingin dunia kesehatan dikelola dengan suasana yang sehat, terbuka, dan ilmiah.
Keprihatinan ini kami sampaikan agar didengar semua pihak,” pungkasnya. (jat)
📊 Survei Kilat BERNAS
Apakah Anda tertarik kuliah lagi?
Jawaban Anda membantu kami menyajikan konten yang lebih relevan.
Akselerasi Pertumbuhan Finansial
Dukung Ekosistem Literasi & Dapatkan B-Points Rewards
Sebarkan Insight Ini
Gunakan link personal Anda untuk mengundang analis lain dan dapatkan poin eksosistem secara otomatis.
Kutip Sebagai Sumber
Format sitasi siap pakai untuk laporan profesional, skripsi, atau publikasi media lainnya.
Dapatkan Top 100 Weekly Brief Langsung ke Email Anda
Setiap Senin pagi: ranking terbaru brand & pemimpin Indonesia, tren industri, dan content angle yang bisa langsung dieksekusi.

Program Career Accelerator UNMAHA
Akselerasi karir global Anda lewat program Teaching Factory. Kuliah S1/D3 dengan jaminan penempatan kerja.
Warta Terkait JOGJA
Local Intelligence Node
Beat Diabetes 2026 di 35 Kota untuk Gaya Hidup Sehat dan Harapan Remisi Diabetes
Reformasi Strategis Koperasi Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Strategi Modernisasi Koperasi Nasional Menuju Visi Indonesia Emas 2045
Transformasi Karir Digital: Strategi Menuju Indonesia Emas 2045 melalui Sektor Media
Ingin Terus Mengikuti Tren Finansial di JOGJA?
Dapatkan akses eksklusif ke direktori berita bisnis dan ekonomi dari 500+ kota di seluruh nusantara.
Populer di kesehatan
Semantic Authority Linker
Lanjutkan Literasi Strategis Anda