Edisi Nasional
Logo BERNAS.id Resmi - Media Nasional & Inspirasi Karir EksekutifBERNAS

Berita Nasional sejak 1946

NASIONAL

Film Setan Jawa karya Garin yang Selalu Baru Ketika Ditonton

Oleh: Redaksi Bernas•25 November 2024
Film  Setan Jawa  karya Garin yang Selalu Baru Ketika Ditonton
Foto: Redaksi Bernas
RANGKUMAN CEPAT BERNAS
Sumber: journalist
"SLEMAN, BERNAS.ID Setan Jawa adalah judul sebuah film bisu dengan format hitam putih karya sutradara Garin Nugroho, yang baru saja meraih predikat Sutradara T..."

🗓️ Dipublikasikan pada 25 November 2024.

Sebagian data dan informasi dalam artikel ini mungkin telah berubah sejak tanggal terbit. Lihat berita hiburan terbaru →

SLEMAN, BERNAS.ID – Setan Jawa adalah judul sebuah film bisu dengan format hitam putih karya sutradara Garin Nugroho, yang baru saja meraih predikat Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2024. Film keluaran tahun 2017 ini menarik, karena biasanya diputar dengan diiringi langsung dengan orkestra gamelan Indonesia karya Rahayu Supanggah.

Namun untuk melakukan hal itu tidaklah mudah. Karena menurut Garin, untuk latihan puluhan pengrawit saja butuh dana milyaran rupiah.

Oleh karena itu, film ini terkadang diputar dengan rekaman iringan gamelan dari pertunjukan yang pernah dilakukan.

Seperti yang dilakukan saat pemutaran film tersebut di Fakultas Filsafat UGM, Senin 25 November 2024 malam. Film ini diputar tanpa iringan live music, namun dari rekaman. Namun tetap mengesankan dan berhasil menyuguhkan nuansa mistis terkait cerita film yang berhubungan dengan pesugihan.

Di dalam diskusi usai film, Garin menyampaikan, salah satu lokasi pengambilan gambar film ini adalah di rumah keluarganya di Jagalan Beji Yogyakarta, yang merupakan rumah berarsitektur Jawa yang ukurannya besar dan terkesan angker.

Oleh warga sekitar, rumah itu dituduh rumah dengan pesugihan.

“Ya sudah saya bikin filmnya sekalian [tentang pesugihan],” kata dia.

Kenapa Garin berani membuat film bisu? Karena menurut dia era film bisu itu golden era-nya perfilman dunia. Waktu itu, lahir film Nosferatu besutan Friedrich Wilhelm Murnau yang sangat melegenda dan menjadi inspirasi film ini.

Setan Jawa secara dramatis menekankan mistisme dan romantisme dari kisah cinta dan pengorbanan tanpa dialog.

Lantas kenapa hitam-putih? Karena menurut Garin, itu warna yang paling mewakili mistisisme. “Itu direpresentasikan dalam hitam dan putih,” kata Garin.

Baca juga: Setelah 2 Tahun Berdiam, Garin Nugroho Hadir dalam Film Terbarunya Setan Jawa

Setting waktu film ini mengambil masa di abad ke-19, era kolonial. Era itu sengaja dipilih, karena waktu itu banyak rakyat di Jawa yang merasa menderita, sehingga banyak yang lari ke praktik-praktik mistisisme pesugihan.

“Kalau penderitaan muncul, orang selalu mengambil jalan pintas,” ujar dia.

Baca juga: Indonesia Bertutur 2024 Pacu Atensi Anak Muda di Bidang Seni dan Budaya

Herlambang Yudho, pendiri Festival Film Dokumenter yang menjadi pembicara juga dalam diskusi film ini mengaku, dirinya sudah beberapa kali menonton film ini dalam beberapa versi, yang iringan musik gamelannya berbeda.

Karena itu film ini menjadi menarik tiap kali ditonton.

“Banyak versinya, banyak rasanya, hari ini saya nonton ada sesuatu yang baru juga,” katanya. (den)

Bagikan artikel ini

WhatsAppTelegram