YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Di Kota Jogja sebenarnya tidak banyak terdapat kasus penyakit leptospirosis. Namun persentase kematiannya cukup tinggi, sehingga wajib diwaspadai.
Endang Sri Rahayu selaku Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menjelaskan, tahun 2021, terdapat lima kasus leptospirosis, dan yang meninggal 1 orang. Sementara tahun 2022 terdapat enam kasus, di mana dua orang di antaranya meninggal.
“Karena itu kami minta masyarakat yang sakit apapun untuk segera dibawa ke faskes (fasilitas kesehatan) terdekat,” kata dia.
Baca juga: Menkes: Waspadai Penyakit Saat Banjir
Ia memaparkan, penyakit ini gejalanya bervariasi, bisa tanpa gejala, atau hanya seperti masuk angin biasa. Namun mendadak bisa sakit parah dan bisa meninggal. Biasanya gejala umum adalah mirip dengan penyakit demam berdarah.
Baca juga: Musim Hujan Datang, Jangan Biarkan Leptospira Bergembira
“Siapa saja yang berkegiatan yang dimungkinkan berinteraksi dengan urine tikus harus mewaspadai,” kata dia.
Ia menyebabkan leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira dari tikus. Penanganannya dengan antibiotik yang cukup mudah didapatkan. Bakteri itu bisa masuk dengan mudah melalui luka di tubuh. Atau lewat mata dan hidung. Dan bakteri itu bisa dengan cepat masuk menyerang organ dalam, termasuk ginjal, sehingga wajib diwaspadai.
“Kalau terkena air kencing tikus harus segera dibersihkan,” kata dia. (den)